Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Pemerintah Kabupaten Trenggalek meraih penghargaan UI Green City Metric. Dalam debut perdananya mengikuti program Universitas Indonesia itu, Trenggalek menduduki peringkat 12 dari 64 peserta.
UI Green City Metric merupakan pemeringkatan bagi kabupaten/kota di Indonesia di bidang keberlanjutan.
Baca Juga : Embung Kering Akibat Musim Kemarau Melanda Wilayah Jombang
Dalam ajang itu, Bumi Menak Sopal sebutan lain Trenggalek mendapatkan penghargaan sebagai peserta baru terbaik. Ada 6 kategori penilaian dalam UI Green City Metric, yaitu penataan ruang dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, tata kelola sampah dan limbah, tata kelola air, akses dan mobilitas serta tata pamong (governance).
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, setiap daerah memiliki tantangannya tersendiri. Ia menyebut, kabupaten dengan kemampuan fiskal mandiri rata-rata di dorong oleh keberadaan industri, jasa perdagangan maupun ekonomi yang lebih ekstraktif.
Baca Juga :Berkah Kemarau, Hasil Panen Semangka Petani Jombang Melimpah
Sementara kabupaten seperti Trenggalek dengan 70 persen kawasan hutan harus mampu memanfaatkan peluang fiskal yang lain. Pemerintah-pun memutuskan untuk membidik potensi perekonomian lainnya dengan pengelolaan lingkungan yang baik.
Salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Trenggalek untuk mewujudkan keberlanjutan itu adalah melalui program Adipura Desa. Dimana desa yang mau melestarikan lingkungan hidup, menjaga sumber mata air maupun kualitas udara akan mendapat transfer anggaran fiskal.
“Kabupaten itu selalu trade off-nya, kita mementingkan ekologi atau ekonomi. Cari kerja saja susah kok suruh menanam tanaman terus nanti hasilnya apa, begitu kira-kira. Tapi memang ini yang harus kita cari terobosan termasuk juga pentahelix dengan seluruh civitas akademika,” kata Mas Ipin sapaan akrabnya, Jumat (9/8).
Baca Juga :Hasil Gedoran Yenny Wahid, Panjat Tebing Indonesia Dulang Emas Pertama di Olimpiade Paris
Pelestarian yang apik itulah kini yang dibidik Trenggalek menjadi skema fiskal baru, yaitu lewat skema perdagangan karbon. Konsep itu sangat mumpuni mengingat potensi-potensi yang dimiliki Trenggalek yaitu lewat sumber alam yang ada di kawasan hutan maupun sumber daya di lautan.
Mas Ipin menyebut dari pencitraan satelit, emisi karbon yang dikeluarkan masyarakat sekitar 3 juta ton equivalent carbon per tahun. Sedangkan kapasitas serapan di Trenggalek ada di angka 27 juta ton equivalent carbon per tahun sehingga menurutnya, di Trenggalek sudah Net Sink Carbon sebesar 24 juta ton.
“Harapan kita ke depan juga ada offsetting, jadi mandatory carbon marketnya tidak hanya berlaku kepada institusi perusahaan saja. Perusahaan di satu wilayah perkotaan mungkin harus di koordinir melakukan offsetting kepada kabupaten-kabupaten yang memang jadi paru-paru, yang punya hutan luas, yang ekosistem pesisir dan bawah lautnya terjaga,” imbuhnya.
Baca Juga : Polres Kediri Sita Ribuan Butir Pil Koplo dari Buruh Harian Lepas
Dengan menyelaraskan ekonomi – ekologi lewat skema regeneratif itu diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat pendapatan fiskal baru, tapi disisi lain tidak mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, Mas Ipin meyakini sejalan dengan cita-cita bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Apalagi sekarang dunia mulai melek terkait dengan offsetting, trade, carbon, dan segala macam. Harusnya itu menjadi pilihan fiskal yang lain, jadi tidak harus ekonominya ekstraktif tetapi regeneratif,” jelasnya.
Untuk diketahui, penghargaan itu diterima Mas Ipin di balai sidang Universitas Indonesia, Kamis (8/8) malam. UI Green City Metric adalah program dari UI untuk mengajak kabupaten/kota melakukan transformasi keberlanjutan. Program itu pertama kali diluncurkan pada tahun 2022.
“Harapan saya sebagai wong cilik dari deso, hanya berharap besok masyarakat Indonesia itu juga dimuliakan dengan cara mereka yang melakukan preservasi lingkungan itu harusnya mendapatkan insentif yang lebih,” pungkasnya.



















