Blitar, SEJAHTERA.CO – Di Kabupaten Blitar ada juga perajin kendang Jimbe. Ini digeluti Heru Susanto, warga Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok. Produknya pun sudah terbang ke Tiongkok. Berikut laporannya
Baca Juga :Sebanyak 17 Personel Kawal Empat Paslon, Ini Kata Kapolres Tulungagung
Menyebut nama kendang Jimbe, selama ini identik dengan Kota Blitar. Ini karena di Kelurahan Sentul dan Tanggung menjadi pusat sentra kendang Jimbe.
Ternyata di Kabupaten Blitar juga ada yang menggeluti usaha kerajinan berbahan baku kayu mahoni itu. Hanya saja jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Heru Sulistiono, salah satu perajin kendang Jimbe di Kabupaten Blitar. Dia berusaha bertahan di tengah gempuran kendang yang kini ada yang berbahan mika.
Baca Juga :Mantan Sekda Trenggalek Dipilih Jadi Pjs Bupati Ponorogo
“Sudah lama. Sudah hampir 12 tahun memproduksi. Alhamdulillah sampai saat ini masih bertahan,” katanya.
Pada usianya yang sudah menginjak kepala 4, Heru dengan telaten memproduksi kendang Jimbe. Bahan baku utama adalah kayu mahoni. Dirinya mendapatkan pengetahuan memproduksi karena mencoba.
“Iya awalnya mencoba. Seraya melihat cara membuat. Akhirnya memberanikan diri untuk menggeluti usaha,” katanya.
Baca Juga :Tiga Pasangan Cakada Kota Batu Ucap Ikrar Pilkada Damai
Di Desa Ngoran, dulunya banyak yang menjadi perajin. Hanya saja, yang bertahan beberapa gelintir. Pemasaran dan sulit mencari bahan baku menjadi kendala.
“Ada di sekitar kampung bahan bakunya. Tetapi kadang sulit didapat. Bahkan sampai mencari ke Trenggalek dan Tulungagung,” keluh ayah dua anak ini.
Ya, bahan dasar yang digunakan Heru untuk membuat kendang yakni kayu dengan jenis mahoni. Dalam satu hari, Ia mampu menghasilkan 30-40 biji. Itu saat kayu untuk bahan baku mudah didapatkan. Tetapi kalau susah sehari hanya 10 biji.
Baca Juga :Pilkada 2024, Kapolres Blitar Serahkan Walpri Kawal Giat Cabup-Cawabup
Cara pembuatannya, kayu yang masih gelondong dibubut dengan mesin putar dari diesel dan mata bubut berbentuk tombak. Sementara untuk pengukurannya, Heru dengan teliti memastikan ukurannya sesuai standar dengan menggunakan penggaris.
Usai satu gelondong kayu berhasil dibentuk menyerupai kendang, bagian dalamnya kemudian juga dibubut. Alat musik buatannya tidak menggunakan sambungan. Satu gelondong kayu hanya digunakan untuk satu alat musik saja. Hal itu menjaga kualitas agar tak mudah retak.
Baca Juga :Pencari Kerang di Pantai Tok Alang-alang Trenggalek Ditemukan, Begini Kondisinya
Untuk harga bervariasi. Mulai 50 ribu hingga 100 ribu lebih. Selain dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, juga diekspor ke Tiongkok. Di negeri tirai bambu itu, kendang digunakan untuk hiasan rumah.



















