Luas Tanam Anjlok Drastis, Kedelai Lokal Ponorogo Kalah Bersaing dengan Padi dan Jagung

Kedelai impor menjadi primadona bagi pengrajin tempe maupun tahu.
Kedelai impor menjadi primadona bagi pengrajin tempe maupun tahu.(foto: istimewa)

Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Pamor kedelai lokal di Kabupaten Ponorogo kian meredup. Komoditas yang sempat menjadi andalan petani itu kini mulai ditinggalkan, seiring peralihan lahan ke tanaman yang dinilai lebih menguntungkan seperti padi dan jagung.

Baca juga:Moratorium Belum Cukup, Belanja Pegawai Ponorogo Masih 37 Persen, DPRD Minta Tak Ganggu Layanan Masyarakat

Data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo menunjukkan, pada 2017 luas tanam kedelai masih mencapai sekitar 30 ribu hektare. Kini, luas tersebut menyusut drastis hingga tersisa sekitar 351 hektare yang tersebar di empat kecamatan, yakni Siman, Mlarak, Jetis, dan Sawoo.

Read More

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dipertahankan Ponorogo, Tri Budi, mengakui penurunan tersebut tidak lepas dari perubahan pola tanam petani. Kehadiran Waduk Bendo turut memengaruhi, karena membuka peluang tanam padi hingga tiga kali dalam setahun.

“Dulu, setelah padi biasanya ditanami kedelai karena keterbatasan air. Sekarang sudah ada pengairan, petani memilih padi lagi atau jagung karena lebih menguntungkan,” ungkap Tri Budi.

Dari sisi produktivitas, kedelai juga kalah bersaing. Dalam satu hektare, produksi kedelai rata-rata hanya sekitar 1,4 ton per tahun. Sementara padi maupun jagung dapat menghasilkan hingga 7 ton per hektare.

Selain itu, faktor pasar menjadi pertimbangan utama. Permintaan jagung yang stabil serta harga yang relatif menguntungkan membuat petani semakin enggan menanam kedelai.

“Jagung ini jelas pasarnya, hasilnya juga lebih tinggi. Jadi petani lebih memilih itu,” imbuhnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *