Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SDN 2 Plandaan Kabupaten Tulungagung hanya mendapat dua siswa baru.
Kondisi sepinya pendaftar di sekolah itu disinyalir lantaran terdapat rumor di lingkungan setempat jika SDN 2 Plandaan Tulungagung itu sudah mati dan tidak beroperasi.
Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariah mengatakan, pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya sebelum pelaksanaan SPMB 2026.
Dengan mendatangi TK dan bahkan mendatangi rumah calon siswa satu per satu di Desa Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Diketahui, upaya itu sudah dijalankan oleh pihak sekolah sejak 3 hingga 4 bulan sebelum SPMB 2026 dengan tujuan agar SDN 2 Plandaan mendapatkan siswa baru.
Baca Juga :Mas Bup Kunjungi SMP Negeri 2 Ngasem di Hari Pertama Masuk Sekolah
Selama upaya itu, awalnya terdapat sebanyak empat calon siswa yang akan masuk di sekolah itu hingga akhirnya menyusut hanya menjadi dua siswa saja.
“Kami sudah mendatangi TK di sekitar, berkoordinasi dengan kepala sekolah dan guru TK untuk memetakan calon siswa yang rumahnya dekat dengan SD kami. Kami juga mengunjungi ke rumah warga satu per satu,” kata Siti Komariah Senin (13/7/2026).
Selama pelaksanaan SPMB, ungkap Siti, para guru bahkan menyediakan iuran secara swadaya untuk memberikan fasilitas gratis kepada calon siswa yang mau mendaftar di sekolahnya.
Uang iuran itu dipakai membeli seragam lengkap, sepatu, buku, alat tulis dan lain-lain dengan nominal mencapai Rp450 ribu.
Namun upaya itu kurang membuahkan hasil diduga karena tersebarnya rumor jika SDN 2 Plandaan sudah mati dan tidak menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM).
Baca Juga :Hari Pertama Masuk Sekolah di Kota Batu, ASN Boleh Telat Ngantor
Padahal nyatanya sekolah itu masih aktif menjalankan KBM meski mulai mengalami penurunan jumlah siswa sejak tahun 2017 yang lalu.
“Saat ini total siswa kami sebanyak 16 siswa dari jenjang kelas 1 sampai kelas 6. Rinciannya adalah dua siswa untuk kelas 1, dua siswa untuk kelas 2, dua siswa, empat siswa untuk kelas 4, tiga siswa untuk kelas 5, dan tiga siswa untuk kelas 6,” ungkapnya.
Kendati minim siswa, jelas Siti, pihaknya menjamin jika proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan normal dan sepenuhnya mengikuti kurikulum yang berlaku.
Bahkan kegiatan ekstrakulikuler si sekolah itu juga tetap jalan, salah satunya seperti kegiatan pramuka dan bahkan juga tersedia Teknologi Informasi.
Sedangkan keberadaan kolam renang desa tepat di depan sekolahnya, justru pihaknya tidak merasa terganggu dan bahkan pihaknya bekerjasama dengan pihak desa untuk kegiatan ekstrakulikuler renang.
Bahkan, siswa SDN 2 Plandaan diberi harga promo untuk tiket masuk kolam renang hanya seharga Rp5 ribu.
“Harapan kami ada kebijakan dari Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung agar kondisi sekolah kami bisa berubah dan kembali mendapatkan banyak siswa,” pungkasnya.


















