Blitar, SEJAHTERA.CO – Kabupaten Blitar ternyata banyak atlet berprestasi. Selain dikenal gudangnya pebulu tangkis dan sepak takraw; ada pula atlet binaraga. Akbar Nur Azmi, atlet binaraga yang kerap menghiasi podium kejuaraan di berbagai negara. Berikut laporannya.
Menyebut nama lengkap Akbar Nur Azmi di Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar tak banyak yang kenal. Tetapi ketika menyebut Akbar atlet berotot alias binaraga langganan juara banyak yang mengenal.
Iya, pria kelahiran 31 tahun silam ini memang dikenal memiliki tubuh yang kekar. Pasalnya sebelumnya kerap menjadi “warga” tetap di tempat kebugaran alias fitness.
“Kalau dihitung sudah 13 tahun menjadi atlet binaraga,” kata Akbar, begitu nama panggilannya yang kini tengah berlatih di Solo untuk even akbar tahun depan.
Moncernya prestasi Akbar tak instan. Butuh proses yang lama. Kegemarannya dalam olah otot itu diawali ketika masih duduk di bangku SMP. Yakni diajak rekannya untuk mengolah raga dan menjaga kebugaran. Awalnya hanya ikut-ikutan saja.
“Ya pingin menjaga badan karena gemar silat. Awalnya itu, kata atlet Porprov yang tergabung dalam atlet Persatuan Binaraga Fitnes Indonesia (PBFI) Kabupaten Blitar ini.
Dia mengatakan rupanya kegemaran fitness itu menjadi awal kesuksesannya dalam berkarir di binaraga. Ada kepuasan sendiri ketika melihat lekukan bagian tubuhnya di cermin kaca. Hingga akhirnya memutuskan menekuni olahraga binaraga dan menjadi hobi utamanya.
“Saya senang pencak silat, tenis meja hingga olahraga lari. Tetapi ternyata passion saya di binaraga,” katanya.
Tahun 2011 menjadi tahun pertama kejuaraan dan bertahan hingga saat ini. Kunci suksesnya adalah konsisten dan menjaga komposisi bentuk tubuhnya. Tak heran soal makanan benar-benar dijaga. Di antara latihan seperti pada pagi hari digunakan melatih kardio.
Sementara pada siang melatih otot besar, sore otot kecil dan malam otot besar lagi. “Ada otot besar terdiri otot dada, bahu, punggung dan paha, Sedangkan untuk otot kecil yakni bisep, perut serta bisep. Ini yang harus jadi perhatian,” katanya.
Menjaga pola makan juga penting. Bukan hanya mengontrol, tetapi juga mengganti makanan. Maklum soal makanan atlet berbeda dengan orang normal.
Seperti tidak boleh makan gorengan, santan, gula, dan garam. Jadi lebih ke kukus dan bakar. Itu tipsnya,” katanya.
Dalam sehari menghabiskan waktu latihan hingga 4-5 kali. Per latihan minimal satu jam.
Dalam kejuaraan ada beberapa yang dinilai. Paling utama otot yang ideal alias simetris. Paling banyak dinilai pada paha karena memang sulit dalam hal pembentukannya.
Soal prestasi jangan tanya. Prestasi terbaru menyabet juara 3 dunia dalam kompetisi yang diadakan di Korea Selatan pada Desember 2023 lalu.
Sebelumnya, dia juga telah menyabet medali emas di Singapore pada kompetisi persahabatan dan sudah sering ikut kompetisi nasional.
Untuk even yang akan datang di antaranya ikut event di Laos, Asia Tenggara pada Mei 2024 dan November ada kejuaraan dunia lagi di Maldives. “Mohon dukungannya,” pungkasnya.
Reporter : Abdul Aziz Wahyudi



















