Dalami Pembuatan Wayang, Cara Pemuda di Jombang Menjaga Nyala Seni Agar Tak Padam Ditelan Zaman

Dalami Pembuatan Wayang, Cara Pemuda di Jombang Menjaga Nyala Seni Agar Tak Padam Ditelan Zaman
Farel Yuda Kusuma menunjukkan salah satu wayang karyanya dari kertas karton—buah ketekunan dan cinta pada budaya Jawa yang ia rawat sejak kecil. (istimewa)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Di tengah riuhnya dunia digital dan modernisasi yang kian cepat menggulung tradisi, seorang pemuda asal Kabupaten Jombang justru memilih jalan menjaga nyala seni wayang agar tak padam ditelan zaman.

Dialah Farel Yuda Kusuma (18), siswa SMAN 3 Jombang asal Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Sejak usia tujuh tahun, Farel telah jatuh hati pada wayang. Bukan hanya bentuknya yang unik, tetapi juga filosofi mendalam yang dikandungnya.

“Saya pertama kali melihat gambar wayang dari buku pepak Bahasa Jawa. Bentuknya menarik, penuh detail, dan terasa berbeda,” kenangnya lembut, Minggu (13/4/2025)

Read More

Meski lahir dari keluarga yang tak berkecimpung langsung dalam dunia pedalangan, benih seni rupanya telah tumbuh dalam dirinya.

Baca Juga :Mobil Tabrak Dua Ruko di Singosari, 1 Korban Pemilik Bengkel Tewas

Sang kakek, seorang pengrawit atau penabuh gamelan, menjadi pintu kecil yang membuka cakrawala besar kesenian Jawa dalam hidupnya.

Farel tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Ia belajar secara otodidak, menyusuri buku-buku dan laman internet, mencatat dan mencoba, hingga tangannya sendiri kini piawai menciptakan tokoh-tokoh wayang dari kertas karton.

Dari sekadar hobi pribadi, perlahan berkembang menjadi usaha kecil bernama KF Productions, yang memasarkan karya-karyanya lewat Instagram.

“Saya membuat untuk diri sendiri, tapi kalau ada yang tertarik, saya juga menerima pesanan,” ujarnya rendah hati.

Tak hanya membuat wayang, Farel juga pernah naik pentas. Meski belum tampil penuh sebagai dalang, ia pernah memainkan peran itu dalam pentas seni sekolah, diiringi teman-teman yang memainkan gamelan dalam ekstrakurikuler karawitan yang ia ikuti.

Baca Juga :Puluhan Pemain Inter Kediri Jalani TC di Pantai Prigi, Budiardjo Thalib: Fokus Peningkatan Kondisi Fisik

Dalam dunia pewayangan, Farel paling menyukai lakon Pendawa Sukur atau Sesaji Rajo Joyo, kisah tentang perjuangan dan kemenangan para Pandawa dalam membangun negeri.

“Nilai moralnya dalam. Tentang kejujuran, keteguhan, dan keikhlasan,” katanya pelan.

Bagi Farel, wayang bukan sekadar benda seni. Ia adalah terapi, pelarian, sekaligus penyejuk hati.

“Wayang itu indah. Dalam bentuknya, dalam ceritanya, dan dalam nilainya. Saya merasa tenang saat membuat atau memandangnya,” tutur Farel, matanya menerawang.

Di usianya yang masih belia, Farel menaruh harapan besar agar anak-anak muda lainnya juga bisa jatuh cinta pada budaya sendiri.

“Boleh saja suka budaya luar, tapi jangan lupakan budaya kita sendiri. Wayang itu bukan hanya peninggalan, tapi pelajaran hidup,” pesan Farel, penuh harap.

Baca Juga :Survei Dimulai, Pemkab Jombang Siapkan Lokasi Sekolah Rakyat Berasrama

Kini, di tengah persiapan kelulusan, Farel bersiap melanjutkan pendidikannya ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mengambil jurusan Sendratasik.

Ia ingin lebih dalam mengasah seni, memperluas jejaring, dan terus merawat api kecil yang telah ia nyalakan sejak kecil.

Di tangan-tangan seperti Farel, warisan budaya itu tidak akan punah. Ia akan terus hidup—dalam gores karton, dalam bayang-bayang layar, dan dalam cinta yang tulus dari generasi yang tak ingin melupakan asal-usulnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *