Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Pandangan sebagian orang pada permainan konsol Playstation (PS) terkadang remeh dan membuang-buang waktu karena dianggap sebagai hiburan semata.
Padahal jika ditekuni bisa masuk ke jalur prestasi atau lebih kompetitif di ajang gim profesional.
Sulthon Auliyana alias Nyambik (23), dia adalah atlet e-Sport asal Kabupaten Tulungagung yang pernah berkompetisi dan memperkuat klub profesional.
Pada rumah sederhananya, di sebelah utara SDN 2 Ketanon, Sulthon Auliyana berlatih. Saat wartawan memasuki rumah tersebut, terlihat seorang pemuda yang tengah asyik bermain PS dengan memainkan permainan sepakbola (FIFA/e-Football) dari konsol PS-nya.
Dia mengasah kemampuannya dalam gim sepakbola tersebut. Sulthon saat ini masih aktif sebagai atlet e-Sport yang mewakili Kabupaten Tulungagung khusus gim FIFA dan e-Football yang mempertandingkan olahraga sepak bola.
“Saya masih aktif jadi atlet e-Sport perwakilan Kabupaten Tulungagung khusus gim FIFA dan e-Football dengan nama panggilan ‘Nyambik’. Sebenarnya atlet e-Sport sendiri banyak macamnya, ada yang gim konsol seperti PS atau X-BOX atau gim mobile (Ponsel),” kata Sulthon Auliyana, Rabu (27/12/2023).
Sebelum terjun ke dunia e-Sport, Sulthon sudah sangat familiar dengan gim konsol. Sejak kecil dia sudah pernah memainkan gim dan merasakan beberapa generasi konsol, mulai PS 1 hingga sekarang PS 5.
Beberapa jenis konsol tersebut dari seri awal hingga seri terbaru sudah pernah dimainkan. Dia mengaku hobi memainkan gim konsol dikala memiliki waktu luang. Bahkan saat ini saja, dia juga diberikan amanah untuk mengelola tempat penyewaan gim konsol yang berlokasi di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung.
“Memang sudah dari kecil suka gim konsol, semakin suka sejak munculnya konsol Playstation (PS) karena pada konsol itu ada banyak varian gim terutama yang jadi favorit saya gim sepak bola,” jelasnya.
Saking seringnya bermain gim konsol sejak kecil, Sulthon lama kelamaan semakin mahir. Saat bermain konsol bersama teman-teman sebayanya, dia bisa dibilang paling jago.
Di masa itu, dia sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk mengikuti turnamen gim konsol atau bahkan terjun langsung sebagai atlet e-Sport mewakili Kabupaten Tulungagung. Namun, itu berubah setelah Mei 2023 kemarin, semenjak temannya mengajak untuk mengikuti turnamen e-Football.
“Awalnya agak kurang percaya diri pas mau ikut turnamen, tetapi saya juga penasaran gimana rasanya ikut turnamen. Selain itu teman saya juga meyakinkan jika kemampuan saya sudah mumpuni. Akhirnya saya terima ajakan itu,” ujarnya.
Turnamen yang diikuti masih skala lokal Kabupaten Tulungagung saja. Rasa kurang percaya diri itu pudar setelah memenangkan beberapa fase pertandingan, hingga sampai final dan mendapatkan gelar juara.
Sejak saat itu, Sulthon mulai terpikirkan untuk serius mendalami dunia profesional sebagai atlet e-Sport.
Sejak saat itu sampai sekarang, sudah ada 10 turnamen yang pernah diikuti. Adapun empat diantaranya berhasil membawa pulang piala juara dan berbagai macam hadiah.
Kemudian pada bulan September 2023, dia juga mengikuti dua turnamen bergengsi sekaligus yakni kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Timur dan Nasional.
“Pada September 2023 kemarin cukup berat, karena saya mengikuti dua kejuaraan bergengsi yakni perwakilan Tulungagung pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur tahun 2023 untuk cabang olahraga e-Sport e-Football dimana hanya masuk 10 besar dan turnamen yang digelar oleh swasta setaraf nasional itu saya jadi semifinalis,” ungkapnya.
Menjadi atlet e-Sport gim FIFA dan e-Football itu bagi Sulthon rupanya tidak mudah, meski keduanya sama-sama gim sepakbola, tapi kedua gim itu memiliki karakteristik dan cara bermain yang berbeda.
Bahkan apabila akan mengikuti turnamen e-Sport FIFA, dia harus berlatih dengan memainkan gim FIFA selama berjam-jam agar terbiasa dengan gim itu.
Selama ini dia berlatih otodidak atau tidak memiliki pelatih khusus selama terjun menjadi atlet e-Sport Kabupaten Tulungagung. Pasalnya, di Tulungagung masih belum ada pelatih khusus kedua gim tersebut, sehingga dia harus mencari pelatih secara online atau daring, dan belajar lebih rajin secara mandiri.
“Begitupun kalau mau ikut turnamen e-Sport e-Football, selama berjam-jam harus memainkan gim itu dulu agar bisa mendapatkan feeling (Perasaan) yang bagus saat memainkannya. Minimal agar terbiasa dengan gim itu, harus berlatih selama 6 jam,” tuturnya.
Kendati demikian, Sulthon merasa bersyukur bisa menyalurkan hobinya itu ke arah yang positif. Sebab masih banyak masyarakat atau orang tua memandang bermain PS tidak menghasilkan prestasi. Padahal sebenarnya, saat ini sudah ada kompetisi atau gim kompetitif yang berhadiah uang.
Dia mengakui pernah dikontrak klub sepak bola Eropa berkompetisi di Liga Inggris untuk memainkan klub tersebut di ajang e-Sport.
Tawaran itu cukup menggiurkan karena jika bisa menjuarai turnamen bisa menjadi pencapaian bagus sebagai atlet e-Sport.
“Pernah dikontrak klub ternama dari Liga Inggris untuk menjadi perwakilan dan memainkan klub tersebut di turnamen. Kalau bisa juara hasilnya juga menggiurkan, karena juara tiga besar bisa mendapat uang jutaan rupiah,” pungkasnya.
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Dhita Septiadarma



















