Jombang, SEJAHTERA.CO – Halaman SDN Menturus, Kabupaten Jombang, berubah menjadi bengkel kerja budaya yang hangat pada Senin (30/3/2026).
Ratusan lembar janur kuning meliuk di jemari mungil para siswa, menandai sebuah upaya besar sekolah dalam merawat tradisi di tengah gempuran zaman instan.
Tidak sekadar seremonial Halalbihalal, sekolah ini memilih jalan “edutainment” dengan mengajarkan seni membuat ketupat sejak dini.
Suasana riuh rendah tampak saat siswa dari berbagai tingkatan kelas duduk bersiap. Didampingi guru dan wali murid, mereka bergelut dengan pola anyaman yang rumit.
Bagi sekolah, ketupat bukan sekadar hidangan lebaran, melainkan media pembelajaran tentang ketelitian dan kerendahan hati.
Baca Juga :Bandara Dhoho Kediri Tutup Posko Lebaran 2026, Trafik Penumpang Tumbuh Signifikan
Kepala SDN Menturus, Sulastri, menegaskan bahwa integrasi antara ibadah dan tradisi adalah kunci dalam membentuk karakter siswa yang menghargai akar budayanya sendiri.
“Kami ingin mengajarkan kepada anak-anak sejak dini bahwa selain ibadah, ada tradisi lebaran yang perlu dilestarikan, yaitu membuat ketupat,” ujar Sulastri di sela-sela memantau kegiatan siswa.
“Ini juga menjadi sarana untuk melatih motorik halus, kesabaran, dan kerja sama. Sekaligus, momen Halal Bihalal ini kami gunakan untuk menanamkan nilai saling memaafkan,” sambungnya.
Mempelajari anyaman tradisional ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa.
Jesika, siswi kelas 4, adalah salah satu yang merasakan betapa rumitnya menyatukan dua helai janur menjadi sebuah wadah yang kokoh.
Meski sempat kesulitan, binar matanya menunjukkan rasa bangga saat anyamannya mulai terbentuk.
“Awalnya susah, janurnya suka lepas. Tapi setelah dibimbing Bu Guru, akhirnya bisa meskipun masih agak miring. Seru banget, nanti mau coba bantu orang tua di rumah,” cerita Jesika dengan polosnya.
Kegiatan ini pun memicu interaksi hangat antara sekolah dan lingkungan rumah. Mujirahayu, salah satu orang tua murid yang hadir, memberikan apresiasi tinggi.
Ia menilai langkah sekolah ini sangat relevan untuk mengenalkan proses di balik sebuah hasil yang selama ini sering dianggap praktis oleh anak-anak.
“Kegiatan seperti ini bagus sekali. Anak jadi tahu bahwa ketupat tidak hanya dibeli jadi, tetapi ada proses pembuatannya yang sarat makna. Kami berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan setiap tahunnya,” tutur Mujirahayu penuh harap.
Puncak acara ditutup dengan tradisi Halalbihalal yang khidmat. Setelah lelah menganyam, seluruh siswa dan tenaga pengajar saling berjabat tangan, meleburkan segala khilaf dalam antrean maaf yang panjang.
Baca Juga :Konflik Timur Tengah Memanas, Begini Nasib 732 Calon Jemaah Haji Nganjuk Tahun 2026
Prosesi ini kemudian dipungkasi dengan makan bersama ketupat yang telah disiapkan, seolah merayakan keberhasilan mereka dalam memahami filosofi “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) yang terkandung dalam sebungkus ketupat.
Melalui kegiatan ini, SDN Menturus tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran langit melalui maaf, dan kesadaran bumi melalui pelestarian kearifan lokal.



















