Kediri, SEJAHTERA.CO – Kasus asusila yang melibatkan seorang tokoh agama di wilayah Tales, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, dengan jumlah korban mencapai 13 anak, menjadi perhatian serius Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri.
Baca juga:Dinas Pendidikan Kediri Perkuat Peran Bunda PAUD hingga Tingkat Kelurahan
Hingga saat ini, DP2KBP3A telah melakukan pendampingan psikologis kepada para korban yang sebagian besar masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pendampingan dilakukan oleh tenaga psikolog guna mencegah anak-anak mengalami trauma berkepanjangan.
Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri, dr. dr. Nurwulan Andadari, menekankan pentingnya peran orang terdekat dalam memberikan dukungan moral dan emosional kepada anak.
“Orang terdekat, baik orang tua, sahabat, maupun tokoh masyarakat harus mampu menjadi pencerah. Artinya bersikap bijak, memberikan edukasi, membangun komunikasi, serta menciptakan suasana harmonis di lingkungan keluarga,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi langsung di tengah maraknya penggunaan gawai yang kerap mengurangi interaksi dalam keluarga.
“Perlu ada waktu khusus untuk saling berkomunikasi langsung, tidak hanya sibuk dengan ponsel masing-masing,” tambahnya.
Baca juga: Sebanyak 1.211 Jamaah Haji Kabupaten Kediri Diberangkatkan
Andadari mengimbau orang tua untuk lebih intens berkomunikasi dengan anak guna membuka ruang dialog dari hati ke hati terkait pengalaman yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar juga perlu ditingkatkan, terutama terhadap individu yang berpotensi melakukan tindakan menyimpang.
“Hal ini penting untuk menjaga kesehatan mental anak dan membentuk pola pikir agar mereka berani melapor kepada orang tua jika mengalami tindakan asusila,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut dapat meminimalkan risiko trauma serta membantu anak tetap merasa aman dan percaya diri dalam beraktivitas sehari-hari.



















