Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Kesedihan masih menyelimuti keluarga Sarjuni, warga terdampak bencana longsor di Trenggalek. Meskipun rumahnya, anak dan cucunya rusak parah diterjang longsor, dia bersyukur masih bisa lolos dari maut.
Mendung pekat menyelimuti wilayah Bumi Menak Sopal, Kamis (18/4/2024) sore. Perubahan alam sebagai pertanda hujan segera turun itu diwarnai sambaran petir diikuti suara menggelegar, menghiasi langit-langit yang berubah jadi kelabu. Sesekali angin berhembus kencang menambah suasana saat itu begitu mencekam.
Sekitar pukul 17.00 WIB turun hujan dengan begitu hebatnya. Meskipun masyarakat di kabupaten yang terletak di pesisir selatan itu sudah akrab dengan fenomena itu, namun mereka tak menyangka bakal memberikan dampak petaka besar bagi mereka.
Mereka tak berpikir buruk, tapi warga sudah mempersiapkan diri jika terjadi bencana sewaktu-waktu.
Warga sadar, tinggal di daerah rentan bencana memiliki banyak risiko, meskipun pilihan itu jadi satu-satunya.
Sebab keterbatasan lahan jadi salah satu alasan, mengingat mayoritas daerah di Trenggalek didominasi kawasan pegunungan.
Dataran tinggi itu tak bisa lepas dari potensi bencana longsor. Itu pula yang disadari Sarjuni dan masyarakat pada umumnya.
Meskipun keberuntungan tak sepenuhnya ada di pihaknya, tapi keberanian, kegigihan dalam menghadapi situasi yang sulit itu membuat warga Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan tersebut tetap bertahan.
Bukan hitungan hari ia bersama keluarga kecilnya tinggal di daerah itu, membaur bersama masyarakat lainnya. Namun hari itu menjadi beda karena hujan terus mengguyur hingga larut malam.
“Batin saya sudah tidak jenak,” kata Sarjuni mengisahkan kondisi dan gejolak batinnya saat itu melihat fenomena alam tersebut saat dijumpai media di sekitar tempat tinggalnya pasca peristiwa banjir – longsor di Trenggalek, 18-19 April.
Dari data BPBD, 591 rumah di 18 desa dari 8 kecamatan tergenang banjir dan 46 rumah dari 13 desa di 6 kecamatan terdampak longsor.
Gemuruh petir sesekali memecah keheningan malam, menyulut kecemasan di hati Sarjuni dan keluarganya. Sebab saat itu hingga pukul 22.00 WIB hujan belum juga reda, malah kian menjadi.
Dia beserta warga lainnya memutuskan terus siaga, meski di dalam rumah tapi tak berani tidur. Suasana di RT 29/RW 09 Dusun Kacangan itu, sama halnya dengan kondisi serupa di daerah lainnya.
“Karena hujannya sangat deras dari sore hingga malam,” imbuhnya.
Kekhawatiran itu jadi kenyataan. Sekitar pukul 22.30 WIB, tanpa diduga, tanah tebing sekitar 20 meter di belakang rumah mereka mulai longsor, menimbun apa pun yang ada di dekatnya.
Dalam sekejap, rumah Sarjuni terguncang oleh aliran lumpur dan batu yang bergerak cepat, mengancam untuk mengubur semuanya di bawah reruntuhan.
Dalam kepanikan dan ketakutan, Sarjuni segera berteriak dan lari bersama keluarganya, menyelamatkan diri dari reruntuhan material. Hujan deras membuat jalanan licin dan sulit dilewati, namun mereka tidak menghiraukan.
Mereka terus melangkah dengan gemetar dalam kegelapan malam, di bawah sorotan petir yang menyala-nyala di langit untuk berjuang bertahan hidup.
“Sekitar pukul 22.00 WIB lebih terdengar suara gemuruh dari belakang rumah. Kami langsung berupaya menyelamatkan diri,” ujarnya.
Meskipun rumah mereka hancur dan harta benda lenyap dalam kilatan petir, Sarjuni dan keluarganya selamat dari bencana yang hampir merenggut nyawa mereka.
Selain rumah Sarjuni, bencana longsor yang terjadi beberapa hari lalu itu juga merusak rumah di sekitarnya yaitu rumah Nurudin dan Nurpanto, anak dan cucu Sarjuni.
“Rumah pada bagian dapur dan kamar rusak, jebol terkena longsor. Ketinggian material kurang lebih sekitar 1 meteran,” jelasnya.
Meskipun kehilangan rumah dan harta benda, Sarjuni dan keluarga merasa bersyukur karena selamat tanpa luka serius.
Pasca kejadian itu, pihaknya memilih mengosongkan rumah dan tinggal sementara waktu di rumah tetangga lainnya sambil berusaha untuk pulih dan memulai kembali kehidupan mereka.
Keputusan Sarjuni tepat, menyelamatkan diri tepat waktu meskipun berat karena tak sempat menyelamatkan harta bendanya.
Peristiwa ini sekaligus pengingat bahwa pentingnya kesiapsiagaan dalam menanggulangi bencana. Mitigasi bencana itu untuk mengurangi risiko dan fatalitas dampak bencana.
“Kami bersyukur atas keselamatan yang diberikan dan akan bangkit dari situasi ini,” pungkasnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor : Dhita Septiadarma



















