Kisah Nurfiat, Koleksi Perkutut Lokal Tulungagung, Burung Mistis dengan Harga Fantastis Jadi Daya Tarik

Kisah Nurfiat, Koleksi Perkutut Lokal Tulungagung, Burung Mistis dengan Harga Fantastis Jadi Daya Tarik

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Burung incaran penghobi biasanya dilihat dari kicauan merdunya, kelincahan burungnya. Tetapi ada yang berbeda dengan ketertarikan, Nurfiat (53), warga Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru justru menyukai burung perkutut karena faktor mistis.

Pada salah satu rumah di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, terdapat suara kicauan burung yang khas yakni burung perkutut dari rumah tersebut.

Usut punya usut, rupanya itu merupakan kediaman Nurfiat yang selama ini memiliki hobi untuk mengoleksi burung perkutut di rumahnya. Saat didatangi media ini, Nurfiat sedang asyik merawat burung perkutut miliknya.

Read More

Kecintaan Nurfiat dengan burung perkutut itu rupanya sudah terjadi sejak beberapa dekade lalu.

Pada saat itu, dia hanya memelihara satu pasangan burung perkutut saja. Lalu lama kelamaan dirinya semakin menyukai burung perkutut tersebut dan mulai menambah koleksi di rumahnya.

“Saat ini total ada sebanyak 10 burung perkutut yang saya koleksi dan dipelihara betul-betul. Bahkan saya juga mencoba untuk mengembangbiakkan burung perkutut ini,” kata Nurfiat, Rabu (26/6/2024).

Pria yang juga merupakan ketua Perkumpulan Pelestari dan Pecinta Perkutut Lokal Seluruh Indonesia (P4LSI) Korwil Tulungagung ini menyebut, kesukaannya terhadap burung perkutut bukan tanpa alasan.

Itu karena banyak keunikan yang dimiliki burung perkutut tersebut yang justru tidak dimiliki oleh burung-burung kicau lainnya, sehingga baginya lebih memesona.

Selain karena dikenal memiliki suara yang khas dan nyaring, burung perkutut juga menjadi incaran para penghobi burung. Lantaran memiliki kecenderungan dengan hal-hal yang berbau mistis mulai dari bis melanggengkan kekuasaan atau bisa membawa keberuntungan.

Namun burung perkutut justru memiliki nilai filosofis tersendiri yang menjadikan daya tarik utama dari burung perkutut tersebut.

“Kalau nilai filosofisnya, bulu burung perkutut berwarna coklat di area sayap dan punggung dengan corak hitam putih di area leher. Karakteristiknya seperti orang Jawa yang mengenakan kain lurik kombinasi warna hitam, putih dan coklat. Taga boleh lurik, tapi hatinya tetap harus bersih,” ungkapnya.

Selain secara filosofis, secara nominal burung perkutut juga memiliki nilai yang fantastis. Untuk satu ekornya dibanderol dengan harga jutaan rupiah dan bisa naik tergantung kualitas burung perkututnya.

Burung perkutut juga memiliki corak yang unik pada bagian lehernya, ditambah burung itu rajin berkicau atau istilah lainnya Gacor, serta sering memenangkan lomba, harganya justru bisa naik berkali-kali lipat.

Bahkan burung perkutut lokal kelas lomba miliknya pernah ditawar dengan nilai fantastis, yakni seharga Rp 30 juta lantaran memiliki tiga kriteria khusus tersebut.

“Sebenarnya tergantung kualitas burung perkutut itu sendiri, kalau memang bagus pasti dicari orang. Kalau koleksi saya ini memang tidak dijual, tapi selalu diincar orang-orang hingga ada yang ditawar seharga Rp 30 juta,” pungkasnya.

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri

Editor : Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *