Jombang, SEJAHTERA.CO – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqo (STIT-UW) Jombang memiliki metode pembelajaran unik untuk mendekatkan mahasiswanya dengan kitab suci Al-Quran.
Kampus berbasis pesantren ini mewajibkan seluruh mahasiswa menulis ayat Al-Quran 30 juz dengan tangan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Metode ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya membaca dan menghafal Al-Quran, tetapi juga memahami isinya secara lebih mendalam.
Kampus yang berlokasi di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang ini ingin memastikan bahwa setiap lulusannya memiliki kedekatan spiritual yang kuat dengan kitab suci.
Sistem pembelajaran ini dilakukan secara bertahap selama delapan semester. Pada semester pertama, mahasiswa menulis Juz 1 dan Juz 30, kemudian 28 juz lainnya dibagi rata mulai semester dua hingga semester tujuh, dengan target empat juz per semester.
Menurut Solechan, Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STIT-UW Jombang, metode ini selaras dengan visi-misi kampus sebagai pusat perjuangan Al-Quran.
“Mahasiswa diwajibkan menulis Al-Quran agar lebih memahami dan mengingat ayat yang telah dihafalkan. Dengan menulis, mereka tidak hanya sekadar hafal, tetapi juga memiliki keterampilan menulis Al-Quran dengan benar,” jelasnya, Rabu (5/3/2025).
Para mahasiswa diberikan kebebasan untuk menyelesaikan tugas ini di sela-sela waktu luang mereka. Meskipun tampak berat, mereka menganggap metode ini sebagai tantangan sekaligus pengalaman berharga.
Baca Juga :Kasus Nonjob Kepala DLH, Bupati Ponorogo: Belum Saya Baca Surat Sanggahannya
Selain program menulis Al-Quran, STIT-UW Jombang juga menerapkan Metode Qurani, sebuah pendekatan khusus yang dirancang untuk membantu mahasiswa membaca dan memahami Al-Quran dengan mudah.
“Di sini, selain kampus, ada juga pondok pesantren yang menerapkan Metode Qurani. Metode ini tidak hanya mengajarkan membaca, tetapi juga memahami isi Al-Quran secara mendalam,” tutur Solechan.
Metode ini telah diterapkan selama bertahun-tahun dan diyakini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa. Kampus berharap program ini tidak hanya membekali mahasiswa dengan pemahaman Al-Quran yang kuat, tetapi juga dapat disebarluaskan ke masyarakat setelah mereka lulus.
“Kami ingin membekali para mahasiswa dengan kemampuan yang jarang ditemukan di kampus lain. Ketika mereka lulus, kami berharap mereka bisa menyebarluaskan ilmu ini kepada masyarakat,” tandasnya.
Baca Juga :Dampak Efisiensi Anggaran, Pemkot Batu Tunggu Instruksi Kepastian THR
Sementara Faiqoh Nur Laili Azis, salah satu mahasiswa STIT-UW Jombang, mengaku senang dengan metode pembelajaran ini karena membantu meningkatkan pemahaman terhadap Al-Quran.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat senang. Dengan menulis, saya bisa sekaligus membaca dan lebih memahami isi Al-Quran. Selain itu, kami diberikan waktu untuk menulis di luar jam kuliah, sehingga tidak terasa berat,” ungkapnya.
Kampus juga menegaskan bahwa penyelesaian tugas ini merupakan syarat wajib untuk mendapatkan ijazah. Jika mahasiswa tidak menyelesaikan penulisan 30 juz, maka ijazah mereka tidak akan diberikan.
Baca Juga :Pesantren Tebuireng Jombang Jaga Warisan Kitab KH Hasyim Asy’ari
“Sudah diwajibkan sejak awal masuk. Jika tidak selesai, ijazah tidak akan keluar, jadi mahasiswa harus menyelesaikannya terlebih dahulu,” tutup Rohmadi, salah satu alumni STIT-UW Jombang.



















