Marcos Reina Beri Kesempatan Pemain Minim Menit Main

Marcos Reina Beri Kesempatan Pemain Minim Menit Main
Pelatih Persik Kediri Marcos Reina Torres.(persik kediri)

Kediri, SEJAHTERA.CO – Kekalahan telak 3-0 di laga debut kerap menjadi stigma bagi seorang pelatih baru. Namun bagi Marcos Reina Torres, malam pahit itu justru menjadi pintu masuk untuk memahami Persik Kediri lebih dalam. Ia datang bukan sekadar membawa skema, melainkan keyakinan bahwa sepak bola tak selalu soal nama besar, apalagi paspor pemain.

Beberapa hari lalu, saat Persik Kediri berjumpa Persis Solo, publik Kediri mulai merasakan denyut perubahan itu. Di lapangan, susunan pemain terasa berbeda.

Nama-nama yang sebelumnya jarang terdengar, bahkan nyaris tak pernah mencicipi menit bermain, tiba-tiba muncul sejak menit awal. Muhammad Firli, Syahrian Abimanyu, hingga Pedro Matos mendapat kepercayaan. Sebuah keputusan yang, di atas kertas, terkesan berisiko.

Read More

Marcos baru sekitar satu bulan memimpin Macan Putih, menggantikan Ong Kim Swee. Waktu yang singkat untuk membongkar pakem lama, namun cukup baginya untuk mengambil kesimpulan penting: Persik membutuhkan keberanian, bukan sekadar kenyamanan.

Baca Juga :Laka Maut di Rajekwesi Kota Batu, Pengendara Motor Meninggal Dunia

Dari sepuluh pemain asing yang dimiliki klub, ia hanya menurunkan lima sebagai starter. Dua lainnya rela menunggu di bangku cadangan, sementara sisanya tak masuk rencana awal.

Bagi Marcos, sepak bola bukan soal status. Ia mengamati latihan dengan detail, menyimak dinamika tim B, bahkan meluangkan waktu menonton ulang video pertandingan. Dari situlah keputusan diambil. Muhammad Firli, yang sebelumnya tak banyak dilirik, justru menarik perhatiannya.

“Saya berkata, oke, anak-anak ini bermain dengan baik. Mari kita berikan Firli kesempatan,” ujarnya. Keputusan itu tak lahir dari keberuntungan, melainkan dari pengamatan. Ketika Firli dimainkan sebagai starter, Marcos melihat sesuatu yang ia cari sejak datang ke Kediri: personalitas.

Di mata pelatih asal Spanyol itu, keberanian seorang pemain untuk menunjukkan diri di momen krusial lebih berharga daripada label bintang. Firli menjawabnya di lapangan. Ia bermain tanpa beban, seolah ingin membuktikan bahwa menit bermain tak selalu sejalan dengan kualitas.

Pedro Matos pun demikian. Marcos menilai sang pemain bekerja dengan baik, meski belum sepenuhnya sempurna. Ia melihat potensi besar pada sentuhan bola dan visi bermain, namun juga mencatat pekerjaan rumah di sektor bertahan. Bagi Marcos, kekurangan bukan alasan untuk mencoret pemain, melainkan ruang untuk berkembang.

“Dia punya kualitas bagus. Tapi perlu bekerja sedikit di defense dan mencoba menjadi pemain yang lebih lengkap,” tuturnya. Kesempatan bermain, menurut Marcos, adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Pemain yang konsisten di latihan akan mendapat peluang, tak peduli seberapa sering namanya disebut sebelumnya.

Baca Juga :Jelang Pergantian Tahun, Polres Tulungagung Razia Miras dan Edukasi Penertiban Knalpot Brong

Pendekatan ini terasa kontras di tengah realitas Liga 1 yang sering menempatkan pemain asing sebagai pusat permainan. Persik sejatinya memiliki kemewahan: bisa memainkan hingga tujuh pemain asing. Namun Marcos memilih jalan berbeda. Ia memandang nasionalitas hanya sebatas administrasi, bukan tolok ukur kualitas.

“Nasionalitas hanya penting untuk memastikan tidak melanggar peraturan,” katanya lugas. Di ruang ganti, tak ada hierarki berdasarkan asal negara. Yang ada hanyalah pemain yang siap bekerja dan menjalankan peran.

Pandangan itu perlahan mengubah atmosfer tim. Persaingan menjadi lebih sehat, latihan terasa lebih hidup. Setiap pemain tahu bahwa kesempatan tak datang karena reputasi, melainkan performa. Bagi para pemain muda dan mereka yang lama terpinggirkan, ini adalah angin segar. Bagi pemain senior dan asing, ini menjadi pengingat bahwa posisi tak pernah benar-benar aman.

Marcos Reina Torres mungkin belum lama di Kediri, namun jejak pemikirannya mulai terasa. Ia membangun Persik dengan kesabaran dan keberanian, dua hal yang sering luput di tengah tuntutan hasil instan. Laga kontra Persis Solo menjadi isyarat awal: Macan Putih sedang belajar percaya pada proses.

Baca Juga :Sempat Meredup, Wisata Desa di Tulungagung Kembali Bergeliat, Ternyata ini Kuncinya

Di bawah arahannya, Persik Kediri tak hanya berusaha menang, tetapi juga menemukan kembali identitas. Sepak bola yang memberi ruang pada kerja keras, bukan sekadar nama. Dan di situlah, perubahan perlahan tapi pasti, mulai tumbuh.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *