SEJAHTERA.CO – Mengenang Perjuangan Ir Soeratin, Nusantara Akhirnya Bicara di Piala Dunia 1938, Rumah Diobrak-abrik Belanda dan Hidup Sulit
Kegiatan mengurus PSSI yang cukup sibuk dengan digulirkannya beberapa kompetisi rutin sejak 1931, pada akhirnya membawa Soeratin pada sebuah pilihan.
Karena kecintaan pada sepak bola, Soeratin, yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi, akhirnya bertaruh untuk memutuskan berhenti bekerja dari perusahaan konstruksi Belanda.
Padahal, gaji Soeratin di perusahaan itu lumayan besar dan memantapkan posisinya sebagai priayi.
Di titik inilah, pertaruhan antara nasionalisme dan materi terjadi dalam kehidupan Soeratin.
Hanya satu yang jadi tujuan bagi Soeratin, yakni agar Nusantara melalui sepak bola tak menjadi pecundang di antara sejumlah negara besar di dunia.
Pilihan itu tepat, karena pada akhirnya Nusantara mampu berbicara di tingkat dunia, melalui keikutsertaannya di Piala Dunia 1938 di Prancis.
Sejumlah negara seperti Jepang, China, Hongkong, hingga dataran Korea pun bertekuk lutut oleh talenta Indonesia yang waktu itu masih memakai nama East Indies.
Nusantara kemudian dapat unjuk gigi di pentas dunia, karena mampu menjadi pionir bagi Asia untuk mengenal sepak bola.
Pada 1940, Soeratin pindah ke kampung halamannya di Bandung dan jabatannya sebagai Ketua PSSI diambil alih oleh Artono Martosoewignyo.
Ketika itu, kehidupan Soeratin menjadi serba sulit. Rumahnya sempat diobrak-abrik tentara Belanda, karena aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dianggap musuh oleh Belanda.
Pengabdian Soeratin bagi bangsa pun masih besar di hari tuanya. Dirinya menyanggupi permintaan Ir. Djoeanda untuk memimpin Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1949.
Akan tetapi, dengan tubuh yang semakin renta, pekerjaan itu sedikit berat. Apalagi, ketika itu perjuangan fisik melawan Belanda terus terjadi.
Setelah sekian lama sakit dan tidak mampu menebus obat, Kisah hidup pendiri sekaligus Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) pertama itu memang penuh keprihatinan.
Dirinya harus rela hidup dalam kesulitan ekonomi hingga akhir hayat. Untuk menebus obat, dia pun harus menelan ludah bulat-bulat.
Tidak ada yang dia tinggalkan, kecuali organisasi yang sangat dicintai, yakni PSSI. Organisasi besar yang menjadi media perjuangan bangsa.
Soeratin meninggal dunia pada 1 Desember 1959 pada usia 60 tahun di dalam kondisi kekurangan ekonomi alias miskin.
Dirinya memilih untuk hidup tenang di sisa umurnya. Sampai tahun ini, PSSI telah menjadi bagian dari kehidupan sejarah panjang Indonesia.
Soeratin memang sempat meramalkan bahwa PSSI tidak pernah lepas dari persoalan, karena setiap kepengurusan pasti mempunyai pandangannya masing-masing.
Tetapi, alangkah baiknya semangat persatuan dan kesatuan harus tetap menjadi jati diri atau identitas PSSI.
Alangkah bijaknya jika kita sadar bahwa sepak bola adalah harga diri bangsa dan alat pemersatu bangsa.
Soeratin tidak pernah meminta kekayaan meski harus mati dalam kemiskinan.
Soeratin hanya ingin memperjuangkan semangat puluhan juta pemuda Nusantara demi meraih kewibawaan dan harga diri Indonesia.
Dia ingin memberi dan mengalirkan gagasan agar makna sesungguhnya dalam sepak bola dapat jadi warisan emas bagi anak cucu bangsa.
Jasanya dalam persepakbolaan nasional diabadikan dalam nama trofi yang diperebutkan dalam kompetisi sepak bola junior tingkat nasional, Piala Soeratin.
Seperti dilansir laman www.pssi.go.id, PSSI saat ini berterima kasih Ir Soeratin. Engkau telah menetapkan pondasi dasar untuk sepak bola Indonesia.
Engkau juga telah menginspirasi untuk mengangkat kebesaran bangsa lewat sepak bola.
Sepak bola terbukti bisa menjadi pemersatu. Karena saat di lapangan, bahasanya satu, bahasa sepak bola.(habis)
Editor: Gimo Hadiwibowo



















