Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Empat pelukis menggelar pameran bersama di Griya Semar Mesem Tulungagung.
Pameran bersama empat pelukis Tulungagung ini bertema unik “CEKLI” Wong 4 yang dibuka pada Sabtu (7/10/2023).
Empat pelukis yang pameran bersama adalah Adhitya Kreshna (Adhit), Agus Dwianto, Rudi Susanto, dan Sigit Priyananto.
Pada pengantar katalog pameran bersama, penulisnya melibatkan seorang perupa terkenal yang karya monumentalnya “Marsinah” dari Tulungagung juga Moelyono.
Kemudian kurator pameran bersama, melibatkan perupa Surabaya kelahiran Tulungagung juga, Agus “Koecink” Sukamto yang juga dikenal sebagai penulis.
Adhit pada pameran bersama kali ini menghadirkan karya “Propacanda 1 Sampai 8” Mixed Media (Coffee on Canvas) 30 Cm x 30 Cm.
“PropaCanda”, dalam karya Adhit, merupakan ungkapan dari kondisi saat ini dimana banyak drama-drama baik politik, maupun hukum yang bisa diseting oleh sebagian kecil orang tanpa rasa malu.
“Hal ini saya lihat seperti candaan-candaan yang sangat satir namun penuh dengan maksud terselubung,” katanya singkat.
Agus Dwianto, pada pameran di Griya Semar Mesem kali ini menghadirkan “Absurd 1 Sampai 8” AOC berukuran 30 Cm x 30 Cm.
“Absurd” dalam karya-karya ini, Agus mencoba bernarasi dengan titik, garis, bidang, ruang dan warna atas yang diakini akan “kebesaran” Tuhan.
Bagaimana kebesaran Tuhan yang sangat tidak terbatas “berbanding terbalik” dengan logika yang menjadi landasan dasar pemikiran manusia.
Apa yang menjadi “ketetapan” di ranah logika manusia sering kali “runtuh” dengan “ketetapan” kebesaran dan kekuasaan Tuhan.
Apa yang menjadi “tidak mungkin” di ranah logika manusia, menjadi “mungkin” di ranah kebesaranNYA.
Kemudian Rudi Susanto kali ini tampil dengan “Demi Waktu” AOC ukuran 30 Cm x 30 Cm.
“Demi Waktu” kehidupan selalu berputar seperti jam yg selalu berdetak. Waktu yang berlalu tak akan kembali…. Namun sudahkah kita menghargai waktu dengan hal-hal yang berharga…. atau hanya menyia-nyiakan sampai ajal menjelang.
Terakhir Sigit Priyananto, “Abstaksi 1 Sampai 8” AOC 30 Cm x 30 Cm. “Abstraksi”, bagi Sigit, adalah sebuah proses menuju inti. Begitu juga dalam kehidupan manusia. Dan tidak semua nampak nyata dan sama.
“Seperti yang saya visualkan tentang Abstraksi Bunga dalam karya yang saya pamerkan kali ini,” katanya.
Karya empat pelukis Tulungagung yang dipajang, sepertinya menjadi sebuah kesatuan dengan lokasi pameran, Griya Semar Mesem
Lihat karya Adhit yang didominasi warna cokelat seperti relief, menghadirkan tokoh atau punokawan pewayangan, seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Klop dengan Griyo Semar Mesem.
Karya Agus “Demi Waktu”, yang menampilkan sejumlah unsur ikan (seafood) kemudian dirangkai sedemikian rupa sehingga mirip seperti “ikan bakar”.
Lukisan “Demi Waktu” seperti ini terasa sangat tepat dipajang (dikoleksi) untuk memperluas apresiasi bagi pelanggan Griya Semar Mesem, he he he…
Sementara itu, dikatakan Agus Koecink, tema Cekli, sudah menunjukan keinginan untuk mengkomunikasikan jangan dianggap yang kecil itu tidak mempunyai suatu kekuatan artistic.
Tetapi pada pameran bersama kali berkeinginan bahwa sesuatu yang kecil mempunyai daya energi untuk menghasilkan karya-karya dengan daya artistik.
Data tarik artistik yang mampu memberikan pemindahan perasaan dari karya seniman ke apresian baik secara ide, gagasan, bentuk, komposisi, dan konsepnya.
Sekadar diketahui, kalimat cekli belakangan sepertinya jarang digunakan entah apa penyebabnya.
Tapi bagi orang yang usianya sekarang sudah 60 an tahun, dulunya banyak menggunakan kalimat cekli.
Karena saat itu masih populer untuk menggambarkan sesuatu benda atau sebuah karya yang ukurannya kecil atau mungil tapi enak atau pas dipandang atau dinikmati.
Ada semacam keindahan tersendiri pada benda yang cekli ini. Jadi bukan hanya sekadar kecil.
Sementara dilansir Lektur.ID, Cekli berarti mungil, kecil, mini, alit dan tangkes
Kesimpulannya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata cekli adalah mungil. Arti lainnya dari cekli adalah alit.
Jadi, bagi pecinta lukisan, terutama yang cekli, jangan sungkan-sungkan datang mengapresiasinya di Griya Semar Mesem Tulungagung hingga 14 Oktober 2023.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















