Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Adat istiadat Mandi Jamas Megengan menyimpan nilai tersendiri bagi warga Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Lebih dari setengah abad mereka mempertahankan budaya warisan leluhur yang memiliki filosofis penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Tepat sehari sebelum memasuki Ramadan menjadi momentum spesial bagi masyarakat Desa Jajar. Seperti pada umumnya, masyarakat di tanah Jawa, mereka melakukan kegiatan megengan sebuah tradisi yang dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan.
Megengan menurut filosofi Jawa berarti ngempet atau menahan. Yang mana dalam konteks bulan Ramadan berarti menahan dari hawa nafsu.
Dengan sukarela warga memasak menu khusus untuk kemudian di doakan dan dibagikan langsung kepada tetangga sekitar. Ada pula yang disentrakan di musala atau masjid.
Tradisi turun temurun itu merupakan wujud suka cita masyarakat dengan berbagi makanan. Kegiatan itu juga dapat meningkatkan tali silaturahmi antar masyarakat.
Namun sedikit berbeda dengan masyarakat Desa Jajar. Tepat sehari sebelum Ramadan, sejumlah warga memadati area Jedhing Wana Tirta. Sebelum melaksanakan kegiatan megengan, mereka menjalani prosesi budaya leluhur Mandi Jamas Megengan.
Seperti istilahnya, Mandi Jamas Megengan adalah kegiatan keramas seperti pada umumnya. Namun ada hal yang membedakan dari rangkaian kegiatan tersebut, yaitu keramas dengan Landha. Landha adalah istilah yang diambil dari Bahasa Jawa, yang dibaca Londho.
“Londho bukan diartikan sebagai orang-orang kolonial Belanda, tapi adalah merang ketan ireng (ketan hitam, red). Unsur yang menjadi ejawantah dari penolak bala dari keyakinan para leluhur,” kata tokoh budaya Desa Jajar, Suwito.
Kang Wito, sapaan akrabnya menjelaskannya Landha ini akan digunakan untuk keramas di Jedhing Wana Tirta yang dalam prosesi itu hanya dilakukan oleh kaum hawa. Jumlahnya ada sembilan wanita yang mengikuti prosesi tersebut.
“Prosesi Mandi Jamas dilakukan selama satu jam, mulai pukul 15.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Sembilan wanita membopong kendi, menuju Jedhing Wana Tirta, membasahi rambut dan berkeramas dengan Landha. Tahap akhirnya itu pembilasan dan mengambil air wudhu,” imbuhnya.
Kang Wito mengaku sebagai warga kelahiran Desa Jajar, Mandi Jamas Megengan memiliki nilai filosofis untuk membersihkan diri sebelum memasuki Ramadan. Sementara Landha adalah media yang diyakini para pendahulu untuk membersihkan diri. Sebab saat itu perlengkapan mandi belum semodern sekarang.
“Zaman dulu orang Jawa belum memakai sabun atau sampo untuk mandi. Selain sebagai penolak energi negatif, juga untuk membersihkan diri,” jelasnya.
Kegiatan itu merupakan salah satu dari rangkaian prosesi adat. Kegiatan adat istiadat itu ditutup dengan prosesi tradisi megengan yang belakangan disebut megengan show. Prosesi itu menyimpan nilai filosofis pemanjatan doa kepada Sang Pencipta.
Megengan Show sendiri juga bertujuan melestarikan budaya maupun tradisi yang sejak lama berkembang di masyarakat selama bulan puasa. Seperti Salalahuk atau syair selawat yang biasanya dilantunkan usai salat tarawih.
Adat istiadat warisan leluhur itu sampai kini masih lestari. Meskipun di tengah gempuran arus globalisasi dan modernisasi, budaya itu terus langgeng lebih dari setengah abad. Regenerasi pun dilakukan untuk mengenalkan kepada kawula muda agar adat istiadat warisan nenek moyang itu tak termakan waktu.
Ini salah satunya dilakoni Jamilatun, salah satu warga yang rutin mengikuti prosesi Mandi Jamas tersebut. Menurutnya ritual itu sebagai cara membersihkan diri dari segala kotoran sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Di tengah hiruk pikuk modernisasi seperti saat ini, dia mengaku tidak minder dan terus antusias untuk meneruskan budaya warisan leluhur Mandi Jamas Megengan.
“Sejak kecil, orang tua saya sudah mendidik untuk berpuasa ketika masuk bulan suci Ramadan. Dan, cara untuk menyucikan diri, yakni dengan melaksanakan adat Mandi Jamas. Dari latar belakang itu, saya pun antusias untuk terus melanjutkan adat istiadat dari warisan para leluhur,” kata Jamilatun.(*)
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















