Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Krisis air bersih menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan bagi sebagian masyarakat Bumi Menak Sopal saat memasuki musim kemarau.
Warga harus berburu air bersih, bak berebut emas di musim kemarau lantaran saking banyaknya warga yang mengantre di sumber-sumber air.
Potret itu seolah jadi pemandangan saban tahun. Pemandangan tak biasa terlihat di sejumlah daerah di Kabupaten Trenggalek saat memasuki musim kemarau.
Banyak warga terlihat mengantre dengan menentang sejumlah jeriken maupun wadah air bersih lainnya. Salah satunya adalah di Dusun Selorejo Desa Mlinjon Kecamatan Suruh. Selain di Mlinjon, ada delapan desa lainnya di enam kecamatan yang mengalami nasib serupa.
“Ini menjadi aktivitas lazim yang dilakukan warga saat musim kemarau,” kata Yanu, salah satu warga Dusun Selorejo.
Yanu menjadi salah satu warga dari 194 Kepala Keluarga (KK) di empat Rukun Tetangga (RT) yang terdampak krisis air bersih di dusun itu. Saat memasuki kemarau, saban harinya ia mengandalkan bantuan pengiriman air bersih dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Sebab tak ada pilihan lain, karena sumber – sumber air di dusun yang terletak di daerah pegunungan itu telah mengering. Apalagi saat ini tengah memasuki fase puncak musim kemarau.
“Sumber-sumber air sudah mengering, tak bisa lagi diakses warga,” imbuhnya.
Tak sedikit dari warga, termasuk dia, terpaksa harus berjalan hingga jarak lima kilometer menyusuri hutan untuk mencari sisa-sisa sumber air yang masih bisa diakses oleh warga. Itu pun dia harus antre bersama warga lainnya karena warga lainnya juga mengalami kondisi serupa. Terlebih bantuan yang didapat belum dapat menjamah seluruh kebutuhan warga karena keterbatasan.
“Satu sumur bisa dipakai untuk 30 KK, bahkan lebih. Kalau bantuan air dari pemerintah digunakan untuk keperluan minum dan memasak, kalau mandi dan mencuci baju di sungai yang jaraknya sekitar lima kilometer itu tadi,” ujarnya.
Kekeringan itu terjadi pada kisaran Juli lalu. Namun saat itu air masih dapat diakses di beberapa titik. Namun sejak kisaran tiga pekan terakhir, warga memutuskan untuk meminta bantuan air bersih ke pemerintah daerah karena tak punya pilihan lain. Sumber air sudah mengering, apalagi saat ini Trenggalek menjadi salah satu terdampak kekeringan meteorologis kategori awas.
“Sejak tiga pekan terakhir, kondisi krisis air bertambah parah,” jelasnya.
Kondisi itu dialaminya selama belasan hingga puluhan tahun saat memasuki musim puncak kemarau. Ibaratnya, saat musim kemarau mencari air bersih di daerah itu bak berebut emas. Dengan kata lain, sumber air yang terbatas, namun disisi lain banyak masyarakat yang mencarinya sehingga air bersih sanggat berharga. Tak heran saat mengunjungi daerah itu banyak warga berseliweran menenteng cucian menyusuri area hutan.
“Kalau tidak parah, sebetulnya air disini masih bisa diakses seperti biasanya,” pungkasnya.
Tak hanya mengantre saja. Tak sedikit warga memilih untuk membeli air tandon seharga Rp 70 ribu untuk kapasitas 1200 liter. Biaya itu sudah termasuk untuk keperluan akomodasi transportasi kendaraan milik warga lainnya yang disewa untuk berburu air bersih di daerah lainnya yang tidak mengalami kekeringan, seperti misalnya desa di bawah Dusun Selorejo. Pilihan itu salah satunya diambil oleh Sri Wilis warga sekitar.
“Itu menjadi alternatif terakhir. Istilahnya kita minta tolong, kebetulan ada warga yang punya pickup dan tandon. Harga itu bukan tarif, tapi istilahnya pengganti solarnya,” kata Sri.
Dengan air yang dibeli itu, kata Sri dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari kurang lebih empat sampai lima hari. Sebab dia tinggal bersama dua sampai tiga orang, termasuk kerabatnya. Sri-pun memaklumi dengan fenomena itu, karena di wilayah sangat sulit ditembus sumber air dan hanya bisa diakses dengan kedalaman – kedalaman tertentu. Ia pun berharap Trenggalek segera turun hujan sehingga krisis air bersih segera berakhir.
“Sehingga warga tidak lagi mengalami kekeringan, namun disisi lain terdapat potensi longsor yang harus diwaspadai,” pungkasnya.
Selain potret warga berburu air bersih, yang jadi pemandangan khas tahunan di daerah itu adalah berseliweran nya mobil-mobil milik pemerintah daerah yang mengangkut suplai air bersih. Sedikit tiga armada truk dengan kapasitas 4000 liter diterjunkan hampir saban waktu untuk mengirimkan air bersih di daerah itu. Biasanya petugas mengirimkan bantuan air bersih setiap tiga atau dua hari sekali.
“Desa ini sudah mendapatkan bantuan 21 tandon air masing-masing 1.200 liter. Kami mendapat jatah 47 tangki, dari awal 11 September sudah terdistribusi 25 tangki mudah-mudahan ada hujan, kalaupun belum akan kita upayakan,” kata Plt Kepala Dinas Sosial Trenggalek, Ratna Sulistyowati. (ase)



















