Purnoaji, Penyandang Disabilitas Pengrajin Truk Mainan Yang Beromzet hingga Rp 10 Juta Perbulan

Purnoaji, Penyandang Disabilitas Pengrajin Truk Mainan Yang Beromzet hingga Rp 10 Juta Perbulan

Blitar, SEJAHTERA.CO – Keterbatasan fisik tak membuat Purnoaji minder berkreasi. Penyandang disabiltas warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan,  Kota Blitar ini sukses menekuni usaha kerajinan truk mainan yang digandrungi anak-anak.

Tak sulit menemukan kediaman Purnoaji. Di kampungnya dikenal sebagai sosok gigih kerja keras dan telaten. Meski cacat fisik sukses membuat kerajinan mainan truk.

“Ya di sini ini menghabiskan hari-hari. Membuat mainan truk,” kata pria kelahiran 45 tahun silam ini.

Read More

Ketika koran ini menginjakkan kaki di halaman rumah menghadap ke selatan, pandangan disambut dengan tumpukan kayu kecil-kecil. Kayu seukuran jempol kaki orang dewasa sepanjang 10 sentimeter dijemur rapi.

Tak jauh dari tumpukan kayu, berjejer mainan truk dengan warna ngejreng di bodi dan bemper. “Ini mainan sudah siap untuk dijual. Lumayan bisa menambah penghasilan biar dapur tetap ngebul,” katanya.

Ya, dialah Purnoaji sosok penyandang disabilitas yang tetap kreatif meski fisiknya tak lagi sempurna. Tangan kanannya harus diamputasi lantaran cedera ketika bermain naik pohon. Itu terjadi ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Ya harus diamputasi, karena memang patah. Waktu itu masih SD dan nurut sama keluarga,” katanya.

Masa ABG dilewati dengan ujian. Banyak yang mencibir karena tangannya tak lagi sempurna. Tetapi itu malah menjadi penyemangat untuk berkarya. “Ingin menunjukkan kalau saya juga bisa cari uang sendiri,” kata bapak dua anak ini.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ketika lulus usai duduk di bangku SMP dirinya mendapat kesempatan menimba ilmu membuat kerajinan. Saat itu pelatihan digelar di Pasuruan.

Tak tanggung-tanggung dua tahun mengikuti pelatihan. Pelajaran yakni membuat kerajinan berbahan kayu. Mulai mainan anak-anak hingga mebel.

“Dari situlah awal usaha. Pilih kerajinan mainan truk karena mudah membuatnya, bahan baku juga ada. Selain itu anak-anak banyak yang suka,” katanya.

Dia optimistis punya prospek karena kali pertama membuat mainan truk, banyak yang suka. Utamanya anak-anak tetangga. Bahkan minta dibuatkan lebih banyak lagi. Karena anak kadang kepingin memiliki ketika ada teman punya mainan baru.

“Sejak saat itulah pesanan mengalir dan kini banyak yang diambil pengepul untuk dijual di toko dan pasar,” katanya.

Untuk membuat mainan truk tak susah. Bahan-bahan mudah di dapat karena di kampungnya juga banyak pengrajin kendang jimbe. Bahan dari kayu waru.

Nah limbah kayu potongan itulah yang dimanfaatkan. Untuk membuat mainan truk, usai dipotong kecil-kecil dijemur. Selanjutnya dirangkai dan tahap terakhir pengecatan. Untuk finishing dibantu istri tercintanya.

“Sudah enam tahun lebih berkarya. Awalnya truk juga saya titipkan di kios mainan dekat rumah. Dan ternyata laku,” katanya.

Mainan truk usahanya terus laku keras. Bahkan dalam sehari dirinya mampu membuat 50 unit mainan truk.  Mainan truk itu proses pembuatannya tak sulit.

Bahkan meski tangan kanannya tak sempurna, tetap bisa maksimal menggunakan kaki dan tangan kiri. Untuk harga tergantung ukuran.

Rata-rata dijual Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Pangsa pasar mulai Blitar, Tulungagung,  Malang hingga Surabaya serta Bali. “Alhamdulillah omzet minimal Rp 10 juta. Lumayan daripada nganggur,” katanya.

Dia mengatakan seiring dengan boomingnya mainan truk, dalam sebulan pesanannya sampai 150 unit. Pesanan dari para pengepul dari berbagai daerah. “Kunci sukses tekun dan telaten,” katanya.

Reporter : Abdul Aziz Wahyudi, Blitar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *