Kediri, SEJAHTERA.CO – Perasaan iba akan muncul ketika kita mengetahui wanita lanjut usia (lansia) yang hidup sebatang kara. Rambutnya sudah memutih, dan tak bisa berjalan. Ia pun jarang dimandikan.
Ke mana pun, wanita lansia ini hanya bisa ngesot di dalam maupun luar rumahnya yang sederhana. Tidur pun di lantai yang beralaskan plastik. Beruntung rumahnya sudah dipugar pemerintah desa setempat.
Wanita lansia sebatang kara tersebut adalah Giman. Di usianya yang sudah 110 tahun, Mbah Giman hidup sebatang kara di rumahnya, Dusun Kedungsari, Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.
Untuk bertahan hidup, Mbah Giman hanya mengandalkan bantuan sosial dari pemerintah yang dikelola oleh keponakannya. Juga dari tetangga yang acap kali memberinya makanan.
Wanita lansia yang semasa mudanya berdagang gerabah keliling ini mendapat jatah beras 10 kilogram per bulan, dan uang tunai Rp400 ribu per 3 bulan dari pemerintah.
Meski sudah usia senja, ingatan Mbah Giman masih tajam. Dia akan mengenali orang yang pernah bertandang ke rumahnya. Hal itu ditunjukkan saat Srikandi GM datang ke rumahnya.
Komunitas binaan Marhaen Djumadi, mantan Bupati Nganjuk di bawah komando Marti Sulistiani ini sudah dua kali menjenguk Mbah Giman.
Tak hanya menjenguk, dan memberikan bantuan, Srikandi GM juga berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Kedungsari, demi kelangsungan hidup Mbah Giman ke depan.
Bahkan, Srikandi GM mengajak warga sekitar untuk membersihkan rumah Mbah Giman yang lantainya sangat kotor, dan lembab lalu memandikannya dan memotong rambut dan kuku-kukunya yang panjang tak terawat.
“Ketika Srikandi GM datang pertama, lantai rumah Mbah Giman masih tanah. Hal itu kami koordinasikan dengan kepala desa setempat, dan langsung diplester dengan dana pribadi kepala desa,” tutur Marti Sulistiani, Sabtu (16/3/2024) sore.
Gayung bersambut, seiring dengan diplesternya lantai rumah Mbah Giman, komunitas emak-emak dari Nganjuk ini kembali datang dengan membawa baju, kasur, bantal, meja kecil, dan lainnya.
“Sementara hanya ini yang kami berikan untuk Mbah Giman, namun secara berkala Srikandi GM akan tetap sambang ke rumah Mbah Giman,” tutur perempuan asal Lingkungan Keringan Kelurahan Mangundikaran, Nganjuk ini.
Punggawa Srikandi GM ini berharap ada pihak yang peduli pada kondisi Mbah Giman untuk membantu baik itu secara finansial maupun pemeriksaan kesehatan, agar Mbah Giman mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak.
“Mbah Giman butuh uluran tangan. Semoga ada dermawan yang membantu kelangsungan hidupnya,” ucap Marti Sulistiani dengan mata berkaca-kaca.
Kedatangan Srikandi GM kali kedua ke kediaman Mbah Giman, disambut hangat oleh aparat pemerintah desa setempat. Srikandi GM disambut oleh ketua RT, kasun, dan modin desa.
“Terima kasih kami haturkan kepada saudara-saudara dari Nganjuk atas kepeduliannya terhadap Mbah Giman,” tutur Faisal (30) Kasun Kedungsari.
Sementara itu, Taniran Kepala Desa Kedungsari mengaku terharu atas kepedulian Srikandi GM terhadap kehidupan warganya yang sebatang kara ini.
“Srikandi GM sudah koordinasi dengan kami. Selanjutnya kami akan membicarakan kondisi Mbah Giman bersama pihak keluarga untuk mengambil langkah apa yang dapat dilakukan untuk membantu Mbah Giman,” ujarnya.
Editor : Muji Hartono



















