Tiban, Kesenian Jadul Bertahan dari Gerusan Zaman

Tiban, Kesenian Jadul Bertahan dari Gerusan Zaman

Blitar, SEJAHTERA.CO – Perkembangan zaman membuat kesenian khas tradisional jarang digelar. Salah satunya kesenian tiban. Sejumlah pegiat seni pun aktif menggelar seni saling cambuk dengan rutin. Harapannya agar tetap lestari. Berikut laporannya.

Memiliki 22 kecamatan, Kabupaten Blitar kaya akan kesenian tradisional. Sayang beberapa di antaranya jarang dilakoni.

Nah di Kabupaten Blitar ada paguyuban unik. Paguyuban ini rutin mengagendakan kesenian khas tempo dulu. Kesenian itu tiban alias adu tarung menggunakan pecut atau cemeti yang terbuat dari lidi pohon aren.

Read More

“Dulu memang tiban identik minta hujan, tetapi sekarang sebagai ajang melestarikan kesenian,” kata Edi Eni, Ketua Paguyuban Tiban Kabupaten Blitar.

Dia mengatakan kesenian tiban sudah dikenal warga Jawa khususnya sudah sejak lama. Kesenian ini biasanya digelar di tanah lapang dan memang digelar untuk minta hujan. Tak heran digelar ketika musim kemarau. Tetapi kini biasa digelar pada musim penghujan. Bahkan penontonnya kadang sampai ribuan.

Sementara pendekar atau petarung  atau jawara berasal dari berbagai desa. Bahkan ada yang luar kota.

“Saat ini identik dengan ajang pertemanan dan silaturahmi. Harapannya jangan sampai hilang,” katanya.

Nah, di Kabupaten Blitar sendiri ada beberapa desa yang rutin menggelar tiban. Seperti di Kecamatan Kanigoro, Sutojayan, Sanankulon dan lain sebagainya.

Misi utama bukan untuk gagah-gagahan, tetapi semata untuk merekatkan hubungan sesama pecinta seni. Maka dari dari tiban tidak ada yang menang ataupun kalah.

Selain itu ada aturan. Sekali main tiga kali cambukan secara bergantian. Untuk keselamatan juga mewajibkan memakai helm pengaman di kepala.

Itu untuk menghindari cambukan di daerah wajah.  “Helm wajib,” katanya.

Sementara itu, Zaenal salah satu pemain atau pendekar tiban ada kebanggan sendiri bisa aksi di panggung. Contohnya ketika gelaran tiban di Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

Dia rela datang dari Ngunut, Kabupaten Tulungagung demi beraksi adu cetar di atas panggung.

“Senang saja, karena jarang ada. Makanya ketika ada kabar tiban, saya datang langsung,” katanya.

Dia mengatakan tiban digelar di tempat terbuka. Ukuran panggung biasanya 3 x 3 meter. Panggung dan ring  terbuat dari bambu dan ditutupi terpal.

Sementara alasnya dari karpet. Siapa saja boleh main tiban. Syaratnya harus mematuhi aturan.  Untuk saling pecut diberi waktu 5 menit.

Untuk menambah suasana tarung menjadi lebih seru, diiringi musik khas Jawa. “Kalau tidak punya pecut dipinjami panitia,” jelasnya.

Setiap pemain diwajibkan mencopot baju. Dan cambukan diutamakan di bagian belakang atau punggung. Sementara wajah dilarang.

Akibat cambukan, tak jarang punggung pemain banyak yang berwarna merah. Ada pula yang tergores bekas cambukan.

“Meskipun sakit tidak mengapa. Sudah biasa,” jelas pria kelahiran 40 tahun silam ini.

Dia menambahkan, dirinya aktif mengikuti tiban. Tak ada persiapan khusus seperti latihan. Ketika ada agenda segera berangkat.

Dia mengikuti tiban sudah dua tahun belakangan. Tak hanya di Blitar saja tetapi juga di Tulungagung dan daerah-daerah lain.”Dengan adanya paguyuban memudahkan ketika rencana tiban,” pungkasnya.

Reporter : Abdul Aziz Wahyudi

Editor : Gimo Hadiwibowo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *