Korban awalnya meng-update atau memposting status melalui jejaring WhatsApp, menggunakan kaos atribut perguruan silat. Namun salah satu anggota perguruan silat berinisial A meminta untuk mengklarifikasi.
Baca Juga :Wakili APKASI, Mas Ipin Sampaikan Curhatan Para Kepala Daerah di Rapat Diseminasi BULD DPD RI
“Salah satu warga perguruan silat meminta klarifikasi kepada korban apakah benar dirinya warga PSHT,” kata Sochib.
Setelah itu, korban memberikan jawaban bila dirinya anggota perguruan silat dan latihan di ranting yang terdapat di Singosari.
“Namun setelah ditelusuri secara detil, ternyata korban bukan anggota perguruan silat. Karena korban bukan warga perguruan silat, saksi A tetap mengajak korban latihan sampai menjadi warga perguruan silat,” lanjut Sochib.
Sekitar pukul 18.30, korban bersepakat dengan saksi untuk mengikuti latihan. Tragis, di lokasi latihan itu, korban dianiaya para anggota perguruan silat hingga tidak sadarkan diri.
Baca Juga :Delapan Dusun di Kabupaten Trenggalek Raih Sertifikat Proklim Utama KLHK
“Sekitar pukul 22.00, anggota perguruan silat membawa korban ke Klinik Delima. Namun karena kondisinya lemah dirujuk ke RS Prasetya Husada Ngijo,” ungkap Sochib seraya mengatakan korban rencananya akan melakukan operasi otak.



















