Blitar, SEJAHTERA.CO – Korban penganiayaan guru, MKKA (14) santri sekaligus pelajar MTs Al Mahmud, Desa Bacem, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar sejak kecil dirawat oleh nenek. Sebab ibu dan ayahnya sudah berpisah dan salah satunya bekerja di Taiwan.
Pelajar tewas diduga dilempar kayu berpaku sungguh pilu, di usia yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang ibu, memilih untuk nyantri dan sekolah di MTs yang seharusnya menjadi rumah keduanya.
Namun disayangkan malah mendapat kekerasan dari oknum guru. Hanya karena kedapatan main di jam-jam salat Dhuha, oknum guru emosi dan melempar kayu berpaku dan akhirnya melukai kepala korban.
“Saya kasihan sama anaknya. Dia itu anak ceria dan pingin mondok sekaligus sudah lama. Bahkan adiknya juga pingin mengikuti jejaknya sekolah di sana,” kata Ikhwal Ricky, paman korban, Jumat (27/9/2024).
Baca Juga :Terekam Video, PPDI Diduga Mendukung Salah Satu Cakada, Bawaslu Tulungagung Lakukan Ini
Dia mengatakan, MKKA adalah sulung dari dua bersaudara. Adiknya masih kecil duduk di bangku sekolah dasar. Meski masih kecil, harus rela ditinggal sang ibu mengais rezeki di Taiwan.
MKKA adalah anak pertama pasangan Mohammad Sholikin-Sulis Susiani. Hanya saja biduk rumah tangga retak.
Keduanya mengakhiri rumah tangga. Ibu MKKA akhirnya menikah lagi dengan pria asal Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat.
Baca Juga :Terekam Video, PPDI Diduga Mendukung Salah Satu Cakada, Bawaslu Tulungagung Lakukan Ini
“Kalau bapak kandungnya jarang komunikasi. Selama ini yang sering nyambangi dan kasih uang saku bapak sambungnya. Kalau ibunya juga sering telepon,” katanya.
Selama ini diasuh bersama neneknya, jatah sambang atau menjenguk di pondok bapak sambungnya tak pernah absen. Seminggu sekali bapak sambung MKKA menyisihkan waktu untuk melihat dan menumpahkan kasih sayangnya, meski selama ini bukan ayah kandungnya.



















