Selain untuk meningkatkan populasi, kawin silang itu juga untuk meningkatkan nilai jual sapi galek’an. Meskipun asli dari Trenggalek, namun masyarakat ditengarai enggan memelihara lantaran sapi galek’an memiliki tubuh yang lebih kecil jika dibandingkan dengan sapi jenis lainnya.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, memang secara postur tampilan fisik berbeda dengan sapi seperti limousin, simental. Namun sebenarnya karkas-nya perbandingan berat hidup dengan daging yang sudah dipotong itu lebih banyak galek’an dan rata-rata dulu orang desa menggunakan sapi galek’an karena dipotong sendiri,” kata Kepala Dinas Peternakan Trenggalek, Joko Susanto.
Baca Juga :Longsor Rusak Fasilitas Sekolah di Trenggalek
Namun karena tampilan sapi galek’an yang disebut Joko tidak ‘gemoi’ jika dibandingkan sapi jenis croos, membuat sapi galek’an yang dulu persebarannya paling banyak di wilayah pesisir Munjungan – Panggul kini jarang diminati masyarakat. Sapi yang jadi iconik daerah itu kini hanya ada di penangkaran milik Dinas Peternakan.
“Dan saat ini tinggal 28 ekor. Dulu tahun 2017-2018 ada 22 ekor, kemudian 2019 ada 20 ekor karena ada yang mati. Tahun 2020 ada 28 ekor, beranak 8 ekor, namun beberapa ada yang dilelang karena sudah tidak produktif,” imbuhnya.
Untuk memastikan perkembangan sapi galek’an, rencananya sapi-sapi itu bakal dipindahkan. Dinas Peternakan berencana membangun lokasi penangkaran baru di wilayah Ngentrong. Lokasi baru itu kata Joko masih dalam pembahasan bersama legislatif.
Baca Juga :Ungkap Dua Kasus Narkoba, Ini yang Disita Satresnarkoba Polres Nganjuk
“Karena di Pogalan itu overload, maksimal 20 ekor. Selain itu lokasi itu juga menjadi tempat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan Puskeswan,” tutupnya.



















