Jombang, SEJAHTERA.CO – Di tengah Kabupaten Jombang yang kaya akan sejarah Islam, berdiri sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang bangsa ini. Masjid Jami PP Bahrul Ulum Tambakberas, yang telah berusia lebih dari satu abad, bukan sekadar tempat ibadah.
Masjid ini juga menyimpan kisah perjuangan Islam dan kemerdekaan Indonesia yang mengakar kuat dalam sejarah negeri ini.
Terletak di dalam kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, masjid ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan dakwah Islam dan pendidikan pesantren yang terus berkembang hingga sekarang. Dulu, tempat ini bukan hanya digunakan untuk beribadah, tetapi juga menjadi pusat pergerakan para ulama dan santri dalam mempertahankan nilai-nilai Islam serta memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan.
Masjid Tambakberas tetap berdiri megah meski usianya telah lebih dari seratus tahun. Arsitekturnya memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Demak, sementara bagian kubahnya mencerminkan sentuhan khas Majapahit.
Baca Juga :Warna Pendapa Kabupaten Blitar Bernuansa Baru “Putih”, Seiring Adanya Bupati Baru
Salah satu keunikan yang paling mencolok adalah menara azan setinggi 15 meter, yang dibangun tanpa semen—hanya menggunakan susunan batu bata merah yang tetap kokoh hingga kini.
Di dalam masjid yang memiliki luas sekitar 800 meter persegi ini, terdapat berbagai peninggalan bersejarah. Salah satunya adalah tulisan Arab Ha’-Ra’-Ta’ dan Mim, yang memiliki makna “Kemerdekaan yang sempurna.” Tulisan ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol perjuangan, mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang lepas dari penjajahan, tetapi juga menjaga identitas dan jati diri bangsa.
Selain itu, di dalam masjid ini masih tersimpan benda-benda kuno, seperti tiang-tiang penyangga asli yang sudah berdiri sejak awal pendiriannya pada tahun 1910-an. Setiap sudutnya memancarkan nuansa perjuangan dan kebangkitan Islam, membawa kita kembali ke masa ketika para ulama berkumpul untuk merumuskan strategi perjuangan dan menyebarkan ilmu.
Baca Juga :Eks Lokalisasi Diduga Beroperasi Selama Ramadan, Satpol PP Tulungagung Datangi Tempat Prostitusi
Masjid Tambakberas juga menjadi saksi penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. Para ulama besar seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. Ridwan, dan KH. As’ad sering berkumpul di masjid ini untuk berdiskusi tentang permasalahan umat dan bangsa. Pada tahun 1926, di tempat ini pula lahir gagasan besar yang kemudian melahirkan NU, yang hingga kini terus berperan dalam membangun masyarakat berbasis keislaman dan kebangsaan.
Masjid ini bukan hanya pusat keagamaan, tetapi juga pusat intelektual Islam. Dari sini, lahir pemikiran-pemikiran yang hingga kini masih menjadi rujukan bagi umat Muslim di Indonesia.
Tidak hanya menjadi pusat dakwah dan pendidikan, Masjid Tambakberas juga memiliki peran besar dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942 hingga agresi militer Belanda kedua tahun 1949, masjid ini menjadi tempat persembunyian para pejuang dan pasukan Hizbullah.
Baca Juga :BPIH Ratusan CJH Kabupaten Blitar Belum Dilunasi, Ini Penyebabnya



















