Sosok Wiwin Sumrambah rupanya masih membekas dalam kenangan kolektif para kader. Bukan karena jabatannya, tapi karena kedekatannya yang nyata.
Ia hadir saat Posyandu perlu dukungan, ia turun langsung saat gerakan stunting butuh penggerak. Kini, meski sudah duduk di kursi parlemen, kehadirannya tetap hangat dan membumi.
Baca Juga :Darurat Kekerasan Seksual, Dorong Penguatan Komitmen Perlindungan Hak-Hak Perempuan
“Yang paling saya ingat dari Bu Wiwin itu pesannya: perempuan harus kuat, jangan lelah memberi, tapi tetap bersyukur,” kata Nur Kholilah, kader senior saat memberi keterangan.
Dalam sambutannya, Wiwin tak sekadar melempar nostalgia. Ia juga menabur refleksi dan semangat juang. Tantangan zaman, katanya, makin kompleks. Budaya gotong royong mulai kalah dengan budaya ‘scroll-scroll’, dan nilai-nilai lokal makin redup digerus tren global.
“Kerja bakti mingguan sekarang kalah pamor sama scroll TikTok,” celetuk Wiwin disambut tawa renyah peserta. “Makanya saya percaya ibu-ibu PKK ini jadi garda terdepan untuk merawat akar budaya kita,” tutupnya.



















