Kediri, SEJAHTERA.CO – Harus semangat dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Kata-kata ini sepertinya cocok untuk menggambarkan perjuangan M. Fananda Catur Pamungkas dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025.
Bagaimana tidak, atlet cabor Indonesia Bela Diri Campuran Amatir-Mixed Martial Art (IBC-MMA) Kabupaten Kediri ini meraih medali emas dengan tidak mudah karena ada banyak rintangan yang sempat membuat pikirannya menjadi kacau hingga tumbang.
Atlet disapa akrab Fananda itu mendapat medali emas di nomor pertandingan 18-23 tahun kelas 61,2 kilogram. Di balik prestasi membanggakan di ajang dua tahunan tersebut, ada proses perjuangan yang tidak mudah lantaran ada pihak yang sempat menghalanginya agar tidak dapat bertanding.
“Saya dijegal hari pertama. Tiba-tiba ada dari Kota Malang mengirim berkas surat ke panitia Porprov bahwa saya pernah main di MMA profesional dan lain-lain,” kata Fananda.
Atlet asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri menceritakan, MMA yang diikutinya bukan di bawah naungan Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI). Namun demikian, ia mengaku, kontingen asal Kota Malang masih tetap ngeyel dan meminta agar dirinya tidak diperbolehkan main di Porprov Jatim IX 2025.
Baca Juga :Wisata Sumber Sugih Waras Desa Dukuh Ngadiluwih Kediri Padat Pengunjung saat Liburan Sekolah
KONI Kabupaten Kediri langsung menghubunginya lewat telepon untuk komunikasi dan memastikan event yang dia ikuti di Malaysia bukanlah di bawah naungan KOBI.
“Sudah banyak bukti kuat disiapkan KONI Kabupaten Kediri. Malamnya sidang dengan KONI Jatim dan PB Porprov serta Kontingen Malang, hasilnya saya diperbolehkan bisa main di ajang ini,” ucapnya.
Meskipun surat resmi bahwa diperbolehkan main berdasarkan hasil sidang, nama Fananda akhirnya keluar di bagan pertandingan untuk menghadapi Kota Malang di babak penyisihan. Akan tetapi, tiba-tiba kelas nomor pertandingannya tak kunjung dimainkan hingga diberhentikan.
Bahkan, namanya sudah hilang sehingga Kota Malang yang seharusnya menjadi lawannya justru bertemu dengan Kabupaten Sidoarjo. Ia pun langsung tanya ke KONI Kabupaten Kediri hingga akhirnya berkomunikasi dengan KONI Jatim karena dirinya dipermasalahkan terkait bertanding di level pro.
“KONI Jatim bilang itu sudah harus main kalau nggak kelasnya ditiadakan dan tidak sah. Agak sore keluar nama saya hingga bisa main, tapi pihak sana tetap ngeyel serta protes ke panitia kayak ngurusin kenapa masih bisa main,” keluh kesahnya.
Baca Juga :Ratusan Oknum Perguruan Silat Diamankan, Diduga Hendak Ganggu Kamtibmas



















