Tak hanya Bung Karno, Mohammad Hatta juga tercatat pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Jejak dua tokoh proklamator itu menjadi bukti bahwa Selecta lebih dari sekadar taman bermain—ia adalah tempat yang pernah menyaksikan diskusi dan pengambilan keputusan penting bagi Republik yang baru lahir.
Direktur Utama PT Selecta, Pramono, menyadari betul nilai sejarah yang terkandung di balik setiap sudut taman. “Kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk liburan, tapi juga pulang dengan membawa cerita dan pengetahuan tentang sejarah Selecta,” ujarnya, Senin (28/7/2025).
Dalam semangat pelestarian, pihak manajemen pun mengambil langkah nyata. Bangunan tua di sisi utara kolam renang dewasa yang nyaris terlupakan kini telah dipugar dan difungsikan kembali sebagai kamar ganti, ruang bilas air panas, hingga gudang wahana.
Pendekatan restorasi pun tak sembarangan, arsitektur heritage dipilih demi menjaga keaslian dan harmoni sejarahnya.
Baca Juga :Lestarikan Wayang dan Dolanan Tradisional, Anak-anak Rudeka jadi Penjaga Budaya
Di kolam renang dewasa, papan seluncur klasik dari kayu ulin yang hampir berusia satu abad masih berdiri gagah.
Ia bukan sekadar wahana lama, tetapi simbol keabadian memori yang terawat. Begitu juga bangunan lawas seperti Hotel Selecta, Selecta 1, dan Restoran Asri, semuanya tetap berdiri sebagai penjaga waktu.
Selecta kini menapaki babak baru. Dari taman bunga yang memesona hingga situs sejarah yang menginspirasi, ia menjelma menjadi destinasi wisata edukatif yang menyatukan alam, hiburan, dan sejarah dalam satu pelukan.
Baca Juga :BEN Carnival 2025 di Kota Blitar Undang Puteri Indonesia dan Dihadiri Para Menteri
Di setiap langkah, pengunjung tidak hanya menyusuri jalur-jalur berbunga, tapi juga menyusuri jejak para tokoh bangsa yang pernah berjalan di tempat yang sama, menjadikan Selecta sebagai taman kenangan Indonesia.(*)



















