“Namun kenyataannya di Dusun Ngeluk Desa Gambyok, kelompok tani justru dirugikan karena sapinya diduga dijual oleh kamituwo (kasun),” sambungnya.
LKHPI bersama Ikhwan Ketua DPD Gerakan Militansi Pejuang Indonesia (GMPI) kini sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengumpulkan bukti-bukti tambahan.
Penanganan kasus ini dipastikan tidak berhenti pada tahap penelusuran lapangan saja.
Baca Juga Kirab Merah Putih Raksasa Kota Kediri Diikuti 1.147 Peserta, Dikibarkan di Gunung Klotok
“Dalam waktu dekat, terkait dugaan penjualan sapi dari program bantuan pemerintah tersebut, kami akan secara resmi melaporkannya kepada pihak-pihak terkait dan aparat penegak hukum,” tambah Hamid saat mengonfirmasi langkah pergerakan mereka.
Sementara itu, berdasarkan pengakuan dari salah satu pengurus Kelompok Tani Sido Mulyo Barokah dusun setempat, program bantuan tersebut masuk pada rentang tahun 2023–2024 yang bersumber dari dinas terkait.
Mirisnya, pengurusan dan tata kelola bantuan dari awal hingga habisnya ternak sama sekali tidak pernah melibatkan koordinasi internal antar-pengurus.
“Sejak awal tidak tahu sama sekali. Sapi itu tiba-tiba sudah ada di tempat Pak Kasun. Informasi maupun koordinasi antar-pengurus sama sekali tidak ada dari awal. Sekarang sapinya ada atau tidak, saya tidak tahu secara pasti, saya sudah lepas tangan,” ungkapnya.
Dia mengaku, meskipun rapat rutin kelompok tani kerap digelar setiap enam bulan sekali, agenda pertemuan hanya berfokus pada pembahasan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) pupuk.
Sementara pengolahan aset bantuan pemerintah seperti ternak sapi, bangunan kandang, hingga mesin perontok/pencacah diduga dikuasai penuh secara personal oleh oknum Kasun Ngeluk.
Baca Juga KPK Geledah Sejumlah Lokasi di Jombang, Sita Dokumen dan Barang Bukti Elektronik
“Saya sama sekali tidak tahu-menahu mengenai skema program bantuan tersebut. Yang mengetahui detailnya hanya pihak ketua kelompok dan Pak Kasun. Mengenai bantuan kendaraan Tossa, akhirnya diambil kelompok agar bisa dimanfaatkan oleh kelompok,” urainya lebih lanjut.
Dari informasi terkini di lapangan, 6 ekor sapi bantuan yang awalnya ditempatkan di kediaman kasun disinyalir sudah kosong dan tidak tersisa.
Hingga kini, belum ada penyampaian laporan pertanggungjawaban resmi dari pihak kasun maupun Ketua Kelompok Tani Sido Mulyo Barokah mengenai keberadaan aset-aset negara tersebut.
“Kalau dari informasi yang beredar sekarang, sepertinya sudah kosong (habis). Namun untuk detail di dalam kandangnya kami tidak berani memastikan karena memang tidak pernah ada koordinasi antar-pengurus. Tidak ada laporan sama sekali dari Pak Kasun ke kelompok,” ucap sang pengurus kelompok.



















