Hampir Dua Pekan di Awal Tahun 2025, Kasus DBD di Tulungagung Mencapai 44 Kasus, Simak Penjelasannya

Hampir Dua Pekan di Awal Tahun 2025, Kasus DBD di Tulungagung Mencapai 44 Kasus, Simak Penjelasannya
Proses penanganan DBD pada salah satu desa di Tulungagung yang dilakukan fogging untuk membunuh nyamuk dewasa. (isal/sejahtera.co)

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Awal tahun 2025, rupanya kasus demam berdarah dengue (DBD) masih terus menjangkiti masyarakat di Kabupaten Tulungagung. Bahkan diprediksi kasus DBD ini masih terus ditemukan sampai dengan pertengahan tahun 2025 nanti.

Baca Juga :Awal Tahun, Puluhan Masyarakat Ponorogo Terserang DBD, Rumah Sakit Kewalahan

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung, Desi Lusiana Wardani mengatakan, selama hampir dua pekan, kasus DBD di Kabupaten Tulungagung sudah mencapai 44 kasus.

Read More

Pada bulan Januari 2025 ini, pihaknya memang telah mewaspadai lonjakan kasus DBD.

Pasalnya, sejak Oktober 2024 kemarin mulai terjadi lagi lonjakan kasus DBD, padahal sebelumnya pada Juni 2024 hingga September 2024 kasusnya sempat menurun.

Baca Juga :Pabrik Tali Rafia Terbakar Hebat di Jombang, Begini Kejadiannya

Dinkes Kabupaten Tulungagung pun mewaspadai jika kasus DBD ini menjadi outbreak setiap lima tahun sekali hingga menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Tulungagung.

“Kalau berbicara outbreak, di Tulungagung dan Jawa Timur itu terakhir terjadi pada tahun 2019. Seharusnya tahun 2024 itu terjadi outbreak kalau melihat siklusnya yang terjadi lima tahunan. Makanya di Januari ini kami mulai mewaspadai hal ini,” kata Desi Lusiana Wardani, Senin (13/1/2025).

Berdasarkan data, ungkap Desi, pada tahun 2023 lalu total kasus DBD di Kabupaten Tulungagung hanya mencapai 206 kasus saja, sedangkan di tahun 2024 melonjak menjadi 1.440 kasus.

Baca Juga :Polres Ponorogo Sulap Knalpot Brong Hasil Razia jadi Monumen Reyog

Hal ini menandakan jika siklus lima tahunan itu bisa saja terjadi, mengingat peningkatan kasusnya pun juga terjadi secara signifikan di Tulungagung.

Bahkan dengan jumlah kasus di awal tahun 2025 ini, pihaknya memprediksi akan ada temuan sebanyak 60 hingga 70 kasus DBD sampai dengan akhir bulan Januari 2025.

Prediksi itu tentunya lebih banyak jika dibandingkan temuan kasus pada bulan Januari di tahun 2024, dimana saat itu hanya ada sebanyak 56 kasus saja.

Baca Juga :Bersih-bersih Lingkungan untuk Cegah DBD dan Chikungunya di Desa Deyeng Kediri

“Mulai tahun 2024 kemarin kan musim hujannya mundur, ini yang membuat kami mewaspadai jika outbreak ini justru terjadi di tahun 2025. Apalagi masih ada kemungkinan kasus DBD tahun ini lebih meningkat di tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Soal rentang usia pasien DBD sendiri, Desi menyebut jika rata-rata usia yang terjangkiti DBD di Tulungagung merupakan anak-anak, namun juga tidak sedikit pasien usia dewasa yang terkena penyakit DBD.

Meski begitu, tingkat rasio kematian akibat DBD di bulan Januari 2025 ini masih nihil, dan diharapkan kematian bisa ditekan.

Baca Juga :Konflik Antar Perguruan Silat Masih Tinggi, Polres Tulungagung Bentuk Satgas

Menurut Desi, untuk menangani kasus DBD ini memang tidak bisa hanya mengandalkan fogging saja, dimana kunci utama pencegahan DBD tetaplah pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Pihaknya menghimbau agar masyarakat terus melakukan PSN, agar jentik nyamuk Aedes Aegypti tidak bisa berkembang.

Baca Juga :Kali Karplos, Wisata Khas Alam Anyar di Kota Blitar, Ada Sumber Mata Air hingga Outbond

“Tidak bisa kalau hanya mengandalkan fogging. Kami tegaskan, fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa saja, sedangkan jentiknya tidak. Maka fogging akan menjadi efektif jika disertai PSN,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *