Air Bendungan Wonorejo Surut 10 Meter, Operasional PLTA Dipangkas Jadi 5 Jam

Bendungan Wonorejo Tulungagung mulai mengalami penurunan tingkat elevasi air.
Bendungan Wonorejo Tulungagung mulai mengalami penurunan tingkat elevasi air.(foto: mochammad sholeh sirri)

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Penurunan elevasi permukaan air di Bendungan Wonorejo, Tulungagung, mulai berdampak pada operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wonorejo. Meski demikian, kondisi tersebut dipastikan belum mengganggu kebutuhan air baku maupun irigasi masyarakat.

Baca juga:Belasan Jalan Altermatif di Tulungagung Bakal Dipasang Portal Pembatas Ketinggian Kendaraan, ini Tujuannya

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Sungai Brantas 2 Perum Jasa Tirta I, Nina Meitasari, mengatakan penurunan elevasi air bendungan mulai terjadi sejak memasuki musim kemarau. Hingga awal Juli 2026, ketinggian air tercatat turun sekitar 10 meter.

Read More

Sebelum musim kemarau, elevasi permukaan air Bendungan Wonorejo berada di angka 179 meter di atas permukaan laut (mdpl). Saat ini, elevasinya tercatat turun menjadi 169,74 mdpl.

“Secara teknis untuk kebutuhan air baku dan irigasi masyarakat Tulungagung dan sekitarnya tidak ada kendala sama sekali,” kata Nina Meitasari, Rabu (1/7/2026).

Namun, penurunan elevasi tersebut berpengaruh terhadap pasokan air yang menggerakkan turbin PLTA Wonorejo. Akibatnya, jam operasional pembangkit harus dikurangi secara signifikan.

Sebelumnya, PLTA Wonorejo mampu beroperasi antara delapan hingga 24 jam per hari saat volume air bendungan berada pada level optimal. Kini, pembangkit hanya dapat beroperasi maksimal lima jam setiap hari.

Operasional PLTA difokuskan pada waktu beban puncak, yakni mulai pukul 19.00 WIB hingga 24.00 WIB. Dalam periode tersebut, pembangkit mampu menghasilkan daya listrik sebesar 5,7 megawatt (MW) dari kapasitas maksimal 6,3 MW.

Baca juga:Empat SMP Negeri di Tulungagung Buka SPMB Gelombang II karena Kekurangan Pendaftar

“Kalau sebelumnya saat tingkat elevasi permukaan air tertinggi yakni 180 mdpl atau bahkan lebih, kita bisa mengoperasikan PLTA selama 24 jam,” ujarnya.

Nina menjelaskan kondisi tersebut masih sesuai dengan pola operasi yang telah ditetapkan dalam rencana alokasi air tahunan. Sebagai bendungan tipe tahunan, Bendungan Wonorejo dirancang untuk menampung air saat musim hujan dan memanfaatkannya selama musim kemarau.

Perum Jasa Tirta I juga telah memproyeksikan penurunan elevasi air bendungan hingga batas minimal 141 mdpl sesuai perencanaan yang disusun sejak awal 2026. Jika elevasi mendekati batas tersebut, operasional PLTA akan kembali disesuaikan berdasarkan manual operasi yang berlaku.

“Dengan catatan itu kondisi tanpa adanya inflow dari sungai yang memasok ke bendungan dan hanya berlaku saat musim kemarau. Jika hujan kembali terjadi, tentu kami akan melakukan pengisian bendungan,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *