Air Sumur Warga Desa Campurdarat Tulungagung Masih Susut

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Menjelang pergantian tahun, rupanya bencana kekeringan masih terasa bagi warga Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Selasa (26/12/2023). Pasalnya, sumur yang menjadi satu-satunya sumber air bagi warga Campurdarat surut sejak tiga bulan terakhir.

 

Salah seorang warga Campurdarat, Ilham Setiawan mengatakan, selama tiga bulan terakhir, masih merasakan bencana kekeringan di wilayah Campurdarat. Pasalnya, di Dusun Ngingas, air di sumur-sumur warga termasuk rumahnya surut, sehingga mengganggu aktivitas warga.

Read More

Sumber air pada sumur warga tersebut digunakan warga utamanya untuk mandi, memcuci pakaian/peralatan memasak, dan aktivitas lainnya. Namun, karena sumur warga surut warga harus mempertimbangkan penggunaan air.

 

“Kalau masih pagi airnya masih bisa dimanfaatkan, tetapi kalau siang menjelang sore itu airnya sudah surut, kami tentu kesulitan. Ini sudah terjadi sejak September 2023 kemarin,” kata Ilham Setiawan, Selasa (26/12/2023).

Menurut Ilham, ari sumur menyusut sedalam 25 meter dari daratan. Sementara kedalaman sumur warga rata-rata tidak mencapai 30 meter. Akibatnya, untuk aktivitas memasak, warga harus membeli galon air mineral isi ulang seharga Rp 6.500 pergalon untuk kebutuhan dua hari.

 

Sementara, untuk melakukan aktivitas mencuci baju dia tidak memiliki alternatif sumber air. Dia harus bangun pagi untuk memanfaatkan air sumur sebelum surut. Kemudian untuk aktivitas mandi cuci kakus (MCK), pihaknya hanya bisa mandi satu kali dalam sehari.

“Karena tidak ada air sama sekali, untuk makan minum harus beli galon air. Biarpun masih bisa mandi satu hari sekali, itupun dibatasi hanya bisa menggunakan 7 gayung sekali mandi agar tidak merugikan anggota keluarga lainnya,” ungkapnya.

 

Kendati mengalami kekeringan, Ilham dan warga Campurdarat masih rutin diberi kiriman air bersih oleh pemerintah untuk menunjang aktivitas harian. Hanya saja, air harus dibagi rata kepada warga, dan perkeluarga hanya mendapatkan air yang cukup saja.

Ilham tidak bisa berbuat banyak selain berharap musim hujan segera datang agar sumur-sumur warga bisa kembali terisi normal. Namun, apabila kondisi kekeringan terus berlarut-larut sampai tahun 2024 mendatang, pihaknya hanya bisa pasrah.

 

“Mau bagaimanapun, kondisi seperti ini karema faktor alam, kami juga tidak bisa menyalahkan siapapun selain pasrah akan keadaan,” pungkasnya.

Sementara itu, warga Campurdarat lainnya yakni Nur Yanti mengatakan, kekeringan pada sumur di rumahnya cukup parah, lantaran air sumur rumahnya hanya tersisa sedikit. Bahkan untuk sekadar mandi dia terpaksa menumpang di rumah tetangganya yang air sumurnya masih bisa dimanfaatkan.

 

“Di rumah kami sudah tidak bisa apa-apa, satu rumah ada lima orang, untuk buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK) saka sudah habis. Mandi terpaksa numpang ke rumah tetangga yang airnya masih bisa dipakai,” kata Nur Yanti.

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *