Bedah Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Aliansi Inklusi Jombang Soroti Pentingnya Ruang Aman bagi Anak Muda

Aliansi Inklusi Jombang sedang berdiskusi dan bedah novel 'Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur' karya Muhidin M Dahlan saat digelar di Kantor WCC Jombang, Rabu (29/7/2026).
Aliansi Inklusi Jombang sedang berdiskusi dan bedah novel 'Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur' karya Muhidin M Dahlan saat digelar di Kantor WCC Jombang, Rabu (29/7/2026).(foto: taufiqur rachman)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Aliansi Inklusi Jombang menggelar dialog dan bedah novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan di Kantor WCC Jombang, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi kalangan muda untuk membahas isu relasi kuasa, kerentanan, kekerasan, hingga pentingnya menghadirkan ruang aman yang inklusif di tengah masyarakat.

Baca juga:Bupati Jombang Lantik 29 Pejabat Promosi, Warsubi: Tak Ada Ruang bagi Pejabat Tanpa Inovasi

Diskusi dipandu relawan WCC Jombang, Arvy, yang aktif mengembangkan gerakan literasi di kalangan anak muda. Tiga narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni pegiat literasi sekaligus penerbit Boenga Ketjil, Andi, penggerak literasi Perpustakaan Rumah Baca Gang Masjid, Luqman, serta Koordinator Bookparty, Zaki.

Read More

Melalui pembacaan karya sastra, peserta diajak melihat bagaimana relasi kuasa, kekecewaan terhadap institusi, serta minimnya dukungan sosial dapat memengaruhi perjalanan hidup seseorang. Kegiatan ini juga menjadi bentuk kepedulian terhadap meningkatnya persoalan yang dihadapi generasi muda, baik sebagai korban maupun pelaku kekerasan, sekaligus minimnya ruang dialog yang sehat.

Dalam pemaparannya, Zaki menilai novel tersebut menawarkan perspektif berbeda dibanding karya sastra pada umumnya. Tokoh utama, Kiran, digambarkan mengalami pergulatan batin setelah menyaksikan ketidaksesuaian antara nilai-nilai yang diajarkan dengan perilaku sejumlah figur yang semestinya menjadi teladan.

Menurutnya, ketiadaan lingkungan yang mampu mendengar tanpa menghakimi membuat tokoh tersebut semakin tenggelam dalam kekecewaan. Kondisi serupa, kata dia, juga dapat dialami banyak anak muda yang tidak memiliki sistem pendukung yang memadai.

“Yang paling terasa dari cerita ini adalah Kiran tidak beruntung karena tidak memiliki ruang aman dan dukungan sosial ketika menghadapi persoalannya. Padahal, kehadiran orang yang tepat dapat mengubah cara seseorang menghadapi luka dan kekecewaan,” ujar Zaki.

Sementara itu, Luqman mengajak peserta membaca kisah Kiran secara utuh dan tidak berhenti pada konflik yang dialami tokoh tersebut. Menurutnya, perjalanan Kiran mencerminkan pergulatan sebagian anak muda dalam mencari makna hidup dan pegangan nilai di tengah berbagai tantangan sosial.

Ia menilai sastra dapat menjadi media refleksi untuk memahami dinamika kehidupan tanpa harus menghakimi tokoh maupun peristiwa yang diceritakan.

“Buku ini seharusnya tidak membuat kita kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai kebaikan. Justru setelah membaca, pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah apa yang harus kita lakukan agar tetap berpihak pada nilai-nilai tersebut,” jelas Luqman.

Pandangan serupa disampaikan Andi. Ia menegaskan bahwa karya sastra tidak sepatutnya dipahami sebagai media penyebaran ideologi, melainkan ruang yang mengajak pembaca berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial.

“Fiksi memang memiliki unsur dramatisasi. Namun di dalamnya terdapat potret relasi kuasa dan hegemoni yang dapat membuat seseorang kehilangan keberdayaan. Karena itu, sastra penting dibaca sebagai ruang refleksi, bukan sekadar untuk mencari benar atau salah,” paparnya.

Andi menambahkan, pembaca perlu memahami konteks sebuah karya agar mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis, bukan sekadar melihat cerita dari permukaannya.

Sepanjang diskusi, peserta juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak muda. Ruang aman tersebut tidak hanya bebas dari kekerasan, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang membuat setiap orang merasa diterima, didengarkan, serta memperoleh dukungan dalam proses pemulihan dan penguatan diri.

Melalui kegiatan ini, Aliansi Inklusi Jombang berharap ruang-ruang literasi terus berkembang sebagai wadah membangun empati, meningkatkan daya kritis, serta membuka dialog mengenai berbagai persoalan sosial yang selama ini masih dianggap sensitif.

Dengan demikian, sastra tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami pengalaman hidup orang lain sekaligus memperkuat nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan inklusivitas di tengah masyarakat.

Baca juga:Empat Terdakwa Kasus Greenhouse Ganja di Jombang Minta Dibebaskan Lewat Pleidoi

“Kami berharap diskusi ini bukan sekadar acara sekali jalan, tetapi menjadi awal hadirnya lebih banyak ruang aman bagi anak muda untuk berbicara, berefleksi, dan tumbuh bersama,” pungkas Arvy.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *