Batu, SEJAHTERA.CO – Bencana banjir lumpur yang terjadi di Kota Batu didugaan adanya alih fungsi lahan di wilayah lereng Gunung Arjuno. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur menilai banjir sering terjadi khususnya Kecamatan Bumiaji akibat krisis iklim dan alih fungsi lahan.
Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Wahyu Eka Setyawan menjelaskan, banjir yang terjadi di Dusun Beru, Desa Bumiaji disebabkan intensitas hujan deras dalam lima tahun terakhir akibat krisis iklim.
“Bahkan banjir yang kemarin ini bukan yang pertama. Sebelumnya pada 2022 juga pernah terjadi banjir dan yang terparah pada 2021 pada November. Kejadiannya sempat menelan korban jiwa,” kata Wahyu, Senin (11/12).
Selain faktor cuaca perubahan atau alih fungsi kawasan di wilayah atas seperti di wilayah lereng Gunung Arjuno dan Welirang menuju ke taman hutan raya sekarang diketahui banyak alih fungsi kawasan.
“Sehingga menyebabkan air yang turun tidak mampu ditangkap dan diserap akhirnya air lari ke bawah. Dampaknya ke permukiman warga dengan membawa material seperti kayu hingga lumpur dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa tidak mampunya kawasan untuk menahan air,” ujar Wahyu.
Kemudian yang menjadi perhatian yaitu, alih fungsi ini tidak hanya terjadi di wilayah atas melainkan juga di kawasan bawah di wilayah Kota Batu. Karena alih fungsi di kawasan bawah terutama untuk wisata dan perhotelan hingga perumahan itu ternyata membuat orang banyak kehilangan lahan.
“Terlebih wilayah atas sekarang banyak digunakan untuk lahan pertaniannya. Tentu itu membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Pasalnya, jika kita berbicara tentang penyelamatan di kawasan atas Kota Batu, tentunya juga harus melihat penyelamatan yang ada di kawasan bawahnya,” tutur Wahyu.
Tentu ini membutuhkan kebijakan, khususnya pemerintah Kota Batu harus mereview ulang rencana tata ruang yang telah mereka buat. Pertama sudah tidak terbuka, kedua tidak partisipatif, ketiga memang lebih mementingkan alih fungsi kawasan khususnya untuk kebutuhan wisata.
“Hingga tidak mengedepankan persoalan alih fungsi serta soal dampak banjir yang terjadi sejak lima tahun terakhir. Kami mendorong review itu untuk mendorong kebijakan tata ruang yang benar benar mengatur soal keselamatan dan pemulihan kawasan,” kata Wahyu.
Walhi Jatim juga mendorong soal kebijakan yang memang berbasis kepada situasi faktual dan bukan sekedar karena ada banjir dan direspon kemudian selesai. Tentunya harus ada road map yang berjangka panjang, terbuka dan melibatkan masyarakat.
“Itulah yang menjadi point penting untuk membahas permasalahan banjir yang ada di Kota Batu. Agar kedepannya tidak separah tahun ini dan kedepannya tidak terjadi banjir lagi,” tutur Wahyu.
Seperti diketahui banjir menerjang Dusun Beru, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji pada Kamis, 7 Desember 2023 hingga mengakibatkan puluhan rumah tergenang banjir serta material lumpur dan kayu sehingga akses jalan Malang -Batu sempat mengalami kendala.
Reporter : Arief Juli Prabowo



















