Cerita Sriati, 16 Tahun Jalankan Bisnis Pengepul Barang Bekas, Pekerjakan dan Berdayakan Warga Setempat

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Di Kabupaten Tulungagung, pengepul barang bekas dipandang sebelah mata lantaran dianggap kumuh dan sebagainya. Padahal, pengepul barang bekas cukup berkontribusi dalam meminimalkan pencemaran lingkungan.

 

Hal inilah yang dilakukan Sriati warga Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru yang sudah belasan tahun berbisnis pengepul barang bekas.

Read More

Di depan rumah Sriati, terlihat banyak tumpukan barang bekas berbagai jenis yang terlihat menggunung, mulai dari botol kaca, plastik, kardus, galon, sepeda, hingga sparepart sepeda motor seperti tanki, dan velg yang semuanya barang bekas. Tumpukan barang bekas ini tentunya sedang menunggu pembelinya.

Barang bekas kerap dianggap sebagai sampah, tapi bagi Sriati, barang bekas itu bak tumpukan emas lantaran sebagian barang bekas itu masih bisa dimanfaatkan. Ditangan yang tepat, benda yang sudah disebut sampah itu masih bisa berguna dan tentunya masih memiliki nilai ekonomi.

 

“Setiap barang bekas yang masuk kesini akan saya sortir terlebih dahulu, mana yang sekiranya masih bisa dimanfaatkan atau diuangkan dan mana yang tidak. Nanti setelah terkumpul, biasanya akan ada pembeli yang datang,” kata Sriati, Rabu (21/2/2024).

Bisnis pengepul barang bekas ini, sudah dijalankan oleh Sriati sejak tahun 2008 silam. Selama Dia selalu menggunakan metode bisnis yang sama, yakni memilah barang bekas saja. Sementara Sriati belum beralih usaha mengolah barang bekas menjadi sebuah produk.

Hal itu dikarenakan butuh ketelatenan dan modal yang besar untuk membeli peralatan tambahan demi mengubah barang bekas di tempatnya untuk menjadi sebuah produk. Hanya saja, bagi Sriati, uang penghasilan hasil menjual barang bekas itu sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya menyekolahkan keempat anaknya.

 

“Sebenarnya tertarik juga untuk mencoba seperti itu, tetapi perlu sumber daya yang cukup dan modal yang besar,” ungkapnya.

Bagi Sriati, bisnis pengepul barang bekas ini masih menjanjikan terutama untuk daerah seperti di Tulungagung, lantaran setiap tahunnya jumlah penduduk Tulungagung semakin meningkat. Imbasnya, banyak barang bekas yang dihasilkan setiap rumah tangga di Tulungagung yang juga mengalami peningkatan.

Maka dari itu, selama 16 tahun ini pihaknya selalu mampu bertahan dalam gejolak apapun termasuk pada saat Pandemi Covid-19 beberapa tahun kemarin yang tidak terlalu mengganggu bisnisnya. Hal itu dikarenakan penjualan barang bekas di tempatnya memiliki pasar dan nilai ekonomi tersendiri.

 

“Selama ini lancar, tidak terlalu ada hambatan, makanya saya menilai jika bisnis ini ke depannya masih tetap menjanjikan seiring bertambahnya penduduk,” jelasnya.

Selama 16 tahun berbisnis pengepul barang bekas, Sriati membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Saat memilah barang bekas dia juga dibantu karyawannya. Bahkan untuk pengepul barang bekas yang setiap hari berkeliling, setidaknya ada empat orang.

Biasanya, barang bekas yang telah dipilah di rumah Sriati akan dikirimkan ke dalam ataupun luar Tulungagung, dengan pengiriman baik jenis dan jumlahnya tergantung pesanan. Bahkan pihaknya juga sudah bekerja sama memasok bahan baku pabrik pengolahan barang bekas.

 

“Kalau kardus bekas ini biasanya dikirim ke Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru. Kan di sana ada pabrik untuk melakukan pengolahan barang bekas,” pungkasnya.

Reporter: Mochammad Sholeh Sirri

Editor: Dhita Septiadarma

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *