JOMBANG, SEJAHTERA.CO – Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Rod Brazier, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Jombang, Selasa (18/8/2026). Dalam lawatan tersebut, diplomat senior itu menyempatkan diri berziarah ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.
Kunjungan tersebut menjadi momen penting bagi hubungan Australia dan Jombang. Selain berziarah, Rod Brazier juga bertemu dengan sejumlah ulama dan pimpinan pesantren untuk mempererat hubungan serta membuka peluang kerja sama antara Australia dan Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Jombang.
Rod Brazier mengaku memiliki kekaguman terhadap sosok Gus Dur sejak lama. Bahkan, ia telah mengenal nama Gus Dur ketika masih menjadi mahasiswa di Australia.
“Suatu kehormatan besar untuk saya bisa berkunjung ke Jombang, khususnya Tebuireng tadi pagi. Sejak saya umur 20-an tahun sebagai mahasiswa di Australia, saya dengar nama Gus Dur itu. Dan saya dapat bertemu dengan beliau pada tahun 1992 kalau tidak salah,” ujar Rod Brazier.
Kini, 34 tahun setelah pertemuan tersebut, ia kembali berhadapan dengan jejak perjuangan Gus Dur, kali ini melalui ziarah ke makam sang tokoh bangsa bersama putri Gus Dur, Yenny Wahid.
“Sekarang, 34 tahun kemudian, saya sempat berziarah ke kuburan beliau di Jombang bersama Ibu Yenny,” imbuhnya.
Usai berziarah, agenda dilanjutkan dengan pertemuan dan santap siang bersama para ulama serta pimpinan pesantren se-Kabupaten Jombang. Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai sejarah pesantren, perjalanan Nahdlatul Ulama, serta nilai-nilai Islam moderat yang berkembang di Jombang.
Rod Brazier mengaku mendapatkan banyak cerita menarik mengenai sejarah pesantren dan NU selama pertemuan tersebut.
“Siang ini, saya juga dapat kesempatan untuk bertemu dengan para ulama di Jombang dan makan bersama. Dan saya mendengar banyak cerita yang menarik mengenai sejarah pesantren-pesantren dan NU di Jombang,” tuturnya.
Ia berharap kunjungan tersebut tidak berhenti sebagai agenda diplomatik, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas antara Australia dengan Indonesia, Jawa Timur, dan Kabupaten Jombang.
“Ke depan, semoga saya bisa kembali lagi ke sini dan kerja sama di antara Australia dan Indonesia, Jawa Timur, dan Jombang bisa berkembang terus,” katanya.
Di sisi lain, Rod Brazier memberikan apresiasi terhadap budaya toleransi yang menurutnya begitu kuat di tengah masyarakat Jombang. Ia menilai pesan-pesan perdamaian yang tumbuh dari lingkungan pesantren semakin relevan di tengah tantangan global.
Menurutnya, perkembangan media sosial yang begitu pesat juga membawa tantangan tersendiri karena dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat. Karena itu, nilai toleransi yang dipraktikkan masyarakat Jombang dinilai penting untuk terus dikembangkan.
“Saya merasa sangat terkesan dengan pesan-pesan mengenai toleransi. Sekarang di dunia ini dengan sosial media dan sebagainya, pesan-pesan toleransi makin penting,” ujarnya.
Ia bahkan berharap Australia dapat belajar dari praktik toleransi yang berkembang di Jombang.
“Harapan saya, Australia bisa belajar dari contoh di Jombang ini yang luar biasa,” pungkasnya.
Baca juga:KPK Geledah Sejumlah Lokasi di Jombang, Sita Dokumen dan Barang Bukti Elektronik
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat kolaborasi Australia dan Jombang di berbagai bidang, mulai pendidikan, kebudayaan hingga dialog antarumat beragama. Di tengah kompleksitas hubungan global, pesan toleransi dari Kota Santri menjadi salah satu nilai yang dibawa pulang sang diplomat dari Jombang.



















