Kediri, SEJAHTERA.CO – Fenomena alam?. Mungkin dapat dikatakan begitu. Selama ini, kemarau dan ketika cuaca panas ekstrem, tidak dijumpai ratusan ribu bahkan jutaan hewan kecil masuk desa.
Tapi, pada Sabtu (25/11/2023), tepatnya menjelang sholat Magrib, tiba-tiba jutaan hewan kecil-kecil (sebesar semut) menyerbu lampu-lampu warga yang menyala.
Fenomena alam, munculnya jutaan hewan, termasuk laron dan walang sangit, terjadi di Desa Plosorejo, (empat dusun) Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.
Tidak itu saja, jutaan hewan ini juga mengerumuni lampu penerangan jalan umum (PJU) sepanjang Desa Plosorejo sehingga sangat mengganggu, utamanya mereka yang jalan atau bersepeda motor.
Begitu mereka melewati di bawah PJU, muka dan tubuh bak tertampar sesuatu, pyur..!. Setelah itu hewan langsung merambat atau menyebar ke muka, telinga hingga ke seluruh bagian tubuh.
Karena jutaan hewan ini terasa mengganggu, hampir setiap kampung, utamanya Dusun Gilang, pintu rumahnya ditutup agar hewan ini tidak masuk rumah.
Sejumlah masjid dan mushola, setelah sholat Magrib, pintunya ditutup dan lampu bagian dalam dimatikan. Dengan begitu, jutaan hewan ini tidak sampai masuk dan hanya beterbangan di luar.
Saat memasuki sholat Isa’, sejumlah mushola ada yang belum berani menyalakan lampu bagian dalam, karena masih banyak hewan yang beterbangan. Sehingga sholat hanya mengandalkan penerangan dari luar.
Kemudian yang merasa kerepotan adanya serangan jutaan hewan in adalah toko atau warung. Toko Bibil yang sekaligus konter pulsa, terpaksa mematikan sejumlah lampu untuk mengurangi serbuan hewan.
Pengunjung toko, tangannya juga harus terus bergerak untuk menghindari atau mengibaskan serangan hewan kecil-kecil tersebut. Kalau tidak, hewan ini akan merambat ke muka, telinga dan lainnya.
Lalu di lantai, hewan-hewan ini juga pada berjatuhan sehingga membuat risih atau jijik jika harus menginjaknya. Kalau kebetulan yang diinjak walang sangit, bau “sengaknya” langsung menusuk hidung.
“Waduh… walang sangit keinjak…,” kata salah seorang pengunjung toko, sambil mengibaskan kakinya.
Karena untuk menghindari keluhan pengunjung atau untuk menghindari walang sangit terinjak, pemilik toko terus-menerus menyapu atau membersihkan hewan yang sudah jatuh ke lantai.
Fenomena seperti ini, kata salah seorang petani Desa Plosorejo, Ugeng Aryanto, sepertinya sudah biasa, menjelang musim hujan. “Biasa, menjelang musim hujan, muncul hewan seperti ini,” katanya.
Benarkah sinyalemen yang diucapkan seorang petani tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Karena ini hanya berdasarkan kebiasaan. Kepastiannya, ya kita tunggu saja….
Editor: Gimo Hadiwibowo



















