Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Perkembangan teknologi pertanian terus berkembang di era modern saat ini. Salah satunya dilakukan Fiska Indra Pratama (28), warga Kabupaten Ponorogo lewat sistem hidroponik dalam greenhouse. Mau tahu kiprahnya, berikut laporannya.
Baca Juga : Borong 37 Medali Emas, Jatim Juara Umum LKS Nasional
Menanam buah melon dengan cara hidroponik itu telah sukses dilakukan oleh Fiska Indra Pratama, pemuda asal Desa Muneng Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo.
Friska Indra, kini memiliki sedikitnya 1.600 pohon melon berbagai jenis di dalam greenhouse seluas 600 meter persegi.
Bahkan usaha yang dirintis tiga tahun terakhir ini mampu mendatangkan keuntungan bagi pemuda lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.
Dalam satu tahunnya, minimal Fiska bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 100 juta.
Baca Juga :KPU Jombang Rekomendasikan Tiga RS, Pemeriksaan Kesehatan Paslon Pilbup
Ada sejumlah jenis melon yang ditanam Fiska secara hidroponik di lahannya dan sejumlah bibitnya “impor” atau dari luar negeri.
Diantaranya jenis melon Inthanon atau Golden Emerald dari Belanda, Sweet Humi dari Cina, Fujisawa dan Musk Melon dari Jepang.
Dimana jenis jenis melon impor tersebut tumbuh subur dan berhasil berbuah.
“Alhamdulillah, ternyata cocok ditanam pakai hidroponik,” kata Fiska Indra Pratama kepada wartawan, Minggu (25/8/2024).
Meski hasilnya saat ini bisa dinikmati dan mampu menghasilkan cuan, namun Fiska menyebut jika perlu perjuangan dalam merintis greenhouse miliknya ini.
Baca Juga :Pasangan Mundjidah – Sumrambah Resmi Terima Rekom dari Partai Demokrat, Langkahnya Semakin Kuat
Ia mengaku sempat frustasi karena pada awal penamaan seluruh pohon melonnya mati. Apalagi pada saat itu ia hanya bermodal nekat dan belajar bertani dari YouTube.
“Memang sudah tertarik berkebun, awalnya ya coba coba terus gagal coba lagi sampai berhasil, alasan pakai greenhouse dan hidroponik karena efisiensi lahan, karena dengan kedua cara ini dengan lahan yang terbatas, tetapi populasi bisa maksimal,” imbuhnya.
Jika dihitung budidaya yang dilakukan Fiska diklaim lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan cara konvensional.
Selain jumlah keuntungan lebih banyak, tanaman juga minim penggunaan pestisida.
Baca Juga :Aliansi Inklusi Kecam Tindakan Amoral Pejabat Disdikbud Jombang, Cemarkan Dunia Pendidikan
Selain itu menanam di dalam greenhouse dapat dilakukan di segala musim.
“Setahun itu saya bisa empat kali panen, kalau konvensional biasanya kan cuma satu atau dua kali dalam setahun,” terangnya.
Fiska juga menambahkan meski saat ini budidaya melon hidroponiknya sudah berkembang, namun dirinya tidak pelit ilmu.
Ia mempersilahkan kepada siapa saja yang mau datang dan belajar cara bertanam secara hidroponik.
Tak jarang greenhouse miliknya kerap dikunjungi para pelajar untuk wisata edukasi.
Baca Juga :Serukan “Boikot Pilkada”, Ratusan Massa Demo di Depan Kantor DPRD Kota Kediri
“Saya juga jual, harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per kilo. Kalau dihitung omzet per 1.000 tanaman bisa mencapai Rp 30 juta dalam sekali panen, dengan keuntungan bisa sampai Rp 21 juta untuk sekali tanam,” tandasnya.



















