Harga Telur Anjlok, Peternak Ponorogo Jual di Bawah HAP

Salah seorang peternak saat memanen hasil telur.
Salah seorang peternak saat memanen hasil telur.(foto: istimewa)

Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Peternak ayam petelur di Kabupaten Ponorogo menghadapi tekanan akibat harga jual telur yang terus merosot dalam dua pekan terakhir. Harga telur di tingkat peternak saat ini berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.

Baca juga:Pencuri Kotak Amal 26 Masjid dan Musala di Ponorogo Dibekuk, Satu Pelaku Masih Buron

Salah seorang peternak ayam petelur di Kecamatan Mlarak, Ahmad Sarbini, mengatakan harga telur di kandang saat ini hanya berkisar Rp18 ribu per kilogram. Angka tersebut terpaut cukup jauh dari HAP yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram.

Read More

Menurut Sarbini, penurunan harga dipengaruhi melemahnya permintaan pasar selama bulan Muharram atau Suro. Pada periode tersebut, masyarakat Ponorogo umumnya mengurangi aktivitas hajatan sehingga kebutuhan telur ikut menurun.

Selain itu, penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah turut berdampak terhadap berkurangnya penyerapan telur di pasaran. Sementara itu, produksi telur dari peternak tetap berjalan normal sehingga menyebabkan stok menumpuk.

“Di wilayah kami sekarang hampir tidak ada hajatan karena bulan Suro. Program MBG juga libur, sehingga produksi lebih banyak daripada kebutuhan. Di sisi lain harga pakan terus naik, tetapi harga telur justru turun,” ujar Ahmad Sarbini, Selasa (30/6/2026).

Kondisi tersebut membuat peternak berada dalam posisi sulit. Meski harga terus menurun, mereka tetap harus menjual hasil produksinya karena telur memiliki masa simpan terbatas dan kualitasnya akan menurun apabila disimpan terlalu lama.

“Yang penting telur bisa keluar dari kandang. Kalau ditahan terlalu lama juga tidak bisa karena kualitasnya akan menurun,” katanya.

Baca juga:Puluhan KDKMP di Ponorogo Terganjal Minim Lahan Pembangunan

Sarbini mengaku para peternak berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk membantu mengatasi kelebihan pasokan telur yang terjadi saat ini. Salah satu solusi yang diusulkan adalah penyelenggaraan bazar telur di berbagai kecamatan.

Melalui kegiatan tersebut, peternak berharap stok telur yang menumpuk dapat terserap oleh masyarakat sehingga mampu menekan potensi kerugian yang lebih besar.

“Kalau ada bazar, setidaknya bisa membantu mengurangi penumpukan telur di kandang sehingga peternak tidak semakin merugi,” pungkasnya.

Selain menghadapi turunnya harga jual, peternak juga masih dibebani kenaikan harga pakan yang menjadi komponen terbesar biaya produksi. Kondisi ini membuat margin usaha semakin menipis dan berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha peternakan apabila berlangsung dalam waktu lama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *