Jelang Bulan Suro, Perajin Warangka di Jombang Kebanjiran Pesanan

Jelang Bulan Suro, Perajin Warangka di Jombang Kebanjiran Pesanan
Fachrur Rochman, perajin warangka asal Ploso, Jombang. (istimewa)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Bulan Suro tak hanya identik dengan ritual jamasan pusaka, tapi juga membawa berkah tersendiri bagi para perajin warangka atau sarung keris. Salah satunya dirasakan Fachrur Rochman, perajin asal Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Fachrur Rochman mengaku lonjakan pesanan hingga tiga kali lipat dalam sepekan terakhir.

“Kalau hari biasa, pesanan hanya sekitar 5 hingga 10 warangka. Tapi jelang Suroan seperti sekarang, bisa naik jadi 15 warangka per hari, baik untuk pembuatan baru maupun servis ulang,” ujarnya saat ditemui, Rabu (25/6/2025).

Read More

Rochman telah menekuni profesi ini sejak 2014. Ia menjelaskan bahwa pembuatan warangka dilakukan sesuai pesanan dan ukuran masing-masing keris.

Baca Juga :Jaksa Kebut Pemberkasan Tersangka Dam Kalibentak, Secepatnya Dilimpahkan ke Pengadilan

Bahan baku yang digunakan pun beragam, mulai dari kayu cendana Jawa hingga kayu-kayu berkualitas tinggi dari luar Jawa seperti setigi, gaharu, nagasari, dan kayu khas NTT.

“Alhamdulillah, pesanan cukup ramai. Mulai dari pembuatan warangka baru, poles ulang, sampai jamas pusaka. Kalau ada pusaka yang kondisinya kurang bagus, biasanya saya sarankan diservis dulu,” kata Rochman.

Pelanggan Rochman datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Jombang, tapi juga dari kota-kota lain seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya.

Banyak di antaranya merupakan pelestari tosan aji yang rutin melakukan jamasan pusaka tiap tahun.

Untuk tarif, Rochman mematok harga yang bervariasi. Jasa poles warangka mulai dari Rp50 ribu, sementara pembuatan warangka lengkap dengan paket perawatan bisa mencapai Rp100 ribu. Harga warangka sendiri dibanderol mulai dari Rp200 ribu, tergantung jenis kayu yang digunakan.

Baca Juga :Candi Simping, Candi Tempat Pendarmaan Raden Wijaya Raja Pertama Majapahit

“Kami tidak hanya melayani keris, tapi juga tombak dan pusaka lain. Semakin bagus bahan kayunya, tentu harganya menyesuaikan,” ujarnya.

Tradisi jamasan pusaka pada malam satu Suro tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Rochman berharap, tradisi ini tetap lestari.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *