Kediri, SEJAHTERA.CO – Langit Kediri masih jernih ketika ratusan pesepeda berkumpul di Simpang Lima Gumul, Minggu (20/7/2025) pagi. Matahari belum tinggi, udara lembut menyapa kulit, dan Gunung Kelud di kejauhan tampak menggoda dengan siluet gagahnya.
Di tengah kerumunan peserta Kediri Dholo KOM 2025, seorang pria berusia lebih dari tujuh dekade tampak tenang berdiri di atas pedalnya.
Ia adalah Dwi Soetjipto, mantan Direktur Utama Pertamina dan Kepala SKK Migas.
Dwi bukan datang untuk menang. Ia datang untuk menyapa dirinya sendiri yang lama tenggelam dalam rapat-rapat korporasi dan tanggung jawab negara. Kini, di jalanan sunyi dengan tanjakan ekstrim, ia menantang dirinya yang baru—versi yang ingin tumbuh, bukan hanya bertahan.
Baca Juga :Ponorogo Bentuk 307 Koperasi Merah Putih, Dapat Apresiasi Gubernur Senilai Rp 2 Miliar
Jalur Kediri Dholo KOM bukan rute ramah. Dengan total panjang 82 kilometer dan elevasi menanjak menuju kawasan Gunung Kelud hingga Air Terjun Dholo, event ini lebih menyerupai ujian ketahanan daripada sekadar perlombaan. Ratusan peserta dari dalam dan luar negeri ikut serta ada atlet, penghobi, hingga pemula.
Namun di antara semuanya, Dwi mencuri perhatian. Bukan karena kecepatan, melainkan karena ketekunan. Dengan tubuh yang tak lagi muda, ia tetap tegak di atas sadel, menembus tanjakan yang oleh para pesepeda disebut sebagai “gigi 1”—tanjakan nyaris 45 derajat yang membuat banyak peserta terpaksa turun dari sepeda mereka.
Kelok 9 di kawasan Air Terjun Dholo adalah pembuka yang menyentak. Tapi Dwi tak berhenti. Ia kayuh sepedanya perlahan, teratur, dengan ritme napas yang dijaga, seolah berbicara dalam diam dengan setiap meter yang ditaklukkan.
“Saya tidak melawan peserta lain. Yang saya lawan adalah diri saya sendiri,” ujarnya ketika akhirnya mencapai garis akhir di Cafe Prongos. “Tanjakan ini memang ujian tekad.”
Baca Juga :Gudang dan Tempat Penetasan Ayam di Tulungagung Terbakar, Diduga Korsleting Listrik
Di tengah rute, terdengar suara peserta muda menyemangatinya. “Semangat Pak Dwi! Panutan!” teriak seseorang.
Ia hanya membalas dengan anggukan dan satu putaran pedal lagi. Tidak butuh banyak kata. Tubuhnya sudah cukup bicara tentang daya tahan, tentang tidak menyerah, tentang semangat yang tak bisa dipensiunkan.
Dwi menganggap keikutsertaannya bukan sebagai ajang olahraga, tetapi sebagai ritual. “Ini bentuk rasa syukur. Tubuh saya masih sehat, dan jiwa saya belum selesai bertumbuh,” tuturnya.
Bersepeda, menurutnya, bukan hanya tentang otot. Tapi tentang mental. Ia telah memimpin perusahaan besar, tapi kini, ia memimpin dirinya sendiri di tikungan pegunungan. Dan mungkin, itulah kepemimpinan yang paling sulit: memimpin diri untuk terus bergerak, bahkan saat dunia berkata cukup.
“Saya tak sedang mengejar kemenangan. Tapi sedang menemukan versi terbaik dari diri saya,” katanya lirih, namun mantap.
Lebih dari 400 pesepeda berdiri di garis start pagi itu. Semuanya membawa cerita, membawa harapan, membawa ambisi. Tapi kisah Dwi Soetjipto menjadi salah satu yang paling membekas. Ia tidak datang untuk podium, tapi ia pulang dengan kemenangan yang lebih hakiki.
“Ini bukan soal siapa tercepat. Tapi siapa yang tak menyerah,” ucapnya sambil menyeka peluh.
Dholo KOM bukan sekadar event. Ini panggung sunyi tempat setiap orang menulis ulang arti hidup, satu kilometer demi satu kilometer. Dan di sepanjang tanjakan, Dwi menuliskan satu kalimat kuat yang tak akan mudah hilang: bahwa umur hanyalah angka. Dan semangat, ialah yang menjaga kita tetap hidup.



















