Ponorogo, SEJAHETRA.CO – Bencana kekeringan di Kabupaten Ponorogo semakin meluas. Tercatat sudah ada 3 dusun baru yang mengajukan permintaan droping air bersih ke BPBD Kabupaten Ponorogo, lantaran kekurangan air bersih menghadapi musim kemarau tahun ini.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Ponorogo, Masun menuturkan ketiga daerah yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih yakni di Dusun Krajan Desa Wates Kecamatan Slahung, Dusun Sukun Desa Sidoharjo dan Dusun Dungus Desa Karangpatihan Kecamatan Pulung.
“Hasil asesmen kita serta adanya permintaan droping air bersih sehingga masuk dalam daftar daerah yang harus dibantu air bersih,” ungkap Masun, kepada Koran Memo Grup, Kamis (21/9).
Masun juga mengatakan, sudah ada total 4 dusun di Ponorogo yang mengalami krisis air bersih. Sebelumnya hanya ada satu yang mengalami kekeringan yakni di Dusun Jenggring Desa Duri Kecamatan Slahung.
Selain keempat lokasi tersebut, pihaknya juga masih melakukan assesmen di tiga dusun di Desa Dayakan Kecamatan Badegan karena juga berpotensi mengalami krisis air bersih.
“Ada juga yang masih kami assessment yakni di Dayakan, Badegan. Tapi memang ketiga dusun itu sudah masuk dalam 41 dusun yang berpotensi rawan krisis air bersih,” jelasnya.
Masun menambahkan, sebenarnya dua dari empat lokasi kekeringan tersebut sudah memiliki fasilitas Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Akan tetapi debit air yang dikeluarkan tidak sebanding dengan konsumsi masyarakat, sehingga perlu adanya bantuan droping dari BPBD.
“Dungus dan Krajan itu punya Pamsimas tapi ya memang debit air mengecil, sehingga perlu dibantu droping air bersih,” paparnya.
Jika dihitung, jumlah warga yang terdampak kekeringan di empat lokasi tersebut mencapai sekitar 344 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 1.061 jiwa. Dengan rincian Jenggring 60 KK atau 200 jiwa, Dusun Krajan 21 KK atau 70 jiwa, Dusun Sukun, 13 KK atau 41 jiwa, dan Dusun Dungus 250 KK atau 750 jiwa.
“Untuk saat ini langkah kita lakukan droping, sesuai kebutuhan ada yang 2 kali seminggu ada yang 1 kali seminggu, melihat kondisi air di lokasi,” pungkasnya. (son)



















