Kisah Nenek Misringah CJH Tertua Asal Ponorogo Mampu Berhaji dari Berjualan Asam Jawa

Kisah Nenek Misringah CJH Tertua Asal Ponorogo Mampu Berhaji dari Berjualan Asam Jawa
Nenek Misringah ditemui di rumahnya saat menceritakan perjalanan hidupnya bisa berangkat haji tahun ini. (sony/sejahtera.co)

Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Di usianya yang sudah menginjak 90 tahun nenek Misringah menjadi calon jamaah haji atau CJH tertua di Kabupaten Ponorogo.

Nenek tujuh anak warga Desa Gandukepuh, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo ini memiliki perjuangan panjang untuk bisa berangkat haji.

Saat ditemui koranmemo.com, dengan suara lirih Misringah menceritakan jika semasa muda dirinya bekerja menjadi buruh serabutan dan pengumpul buah asam jawa.

Read More

Keuntungan yang didapat selalu dilipat dan disimpan sebagai tabungan. Hingga pada 2019 ia resmi mendaftar sebagai CJH dan berangkat pada haji tahun ini.

Baca Juga :Buka Keran Investasi, Pemkab Jombang Terima Kunjungan BI dan DPMPTSP Jatim

“Senang sekali bisa berangkat haji, doakan semoga bisa selamat dan sehat,” ungkap Misringah lirih, Selasa (6/5/2025).

Misringah mengaku sudah tidak sabar untuk menunaikan rukun Islam ke lima tersebut. Meskipun, untuk berjalan saja dirinya harus menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya.

Namun tekad Misringah untuk pergi ke Tanah Suci membuatnya tetap semangat dan kuat. Ia pun bakal ditemani oleh anak bungsunya Mujiati (49) selama menunaikan ibadah haji.

“Tanggal 16 Mei 2025 berangkat, tidak takut naik pesawat,” ujar Misringah sambil tersenyum.

Sementara itu, Mujiati menjelaskan jika pada 2019 lalu ibunya tiba-tiba ingin mengutarakan keinginannya untuk pergi haji. Lalu, dijualah sejumlah perhiasan emas milik ibunya tersebut untuk mendaftar haji.

Baca Juga :DPRD Kabupaten Kediri Bahas Pansus Raperda Kawasan Tanpa Rokok Tahap Dua

Meski hanya cukup untuk mendaftar, sejumlah kekurangan biaya pun dicukupi oleh ketujuh anaknya.

“Mbah ini dulunya pekerjaannya hanya memungut asam jawa, dijual lalu dikumpulkan uangnya, lalu dibelikan perhiasan. Perhiasan itu yang dijual untuk mendaftar haji, lalu anak-anaknya yang mencukupi,” paparnya.

Mujiati juga mengungkapkan, sang ibu saat ini juga masih aktif beraktivitas mencari buah asam jawa. Tapi, sejak enam bulan terakhir, Mujiati pun melarang ibunya, untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas berat.

Baca Juga :Penutupan Warung Esek-esek di Ponorogo, Kang Wie: Satpol PP Harus Terus Menyisir

“Di kebun masih aktif, ya cabut rumput, memungut asam jawa dari bawah pohon, tapi sejak enam bulan terkahir sudah saya larang, sejak dipastikan bisa berangkat haji tahun ini,” pungkas Mujiati.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *