Batu, SEJAHTERA.CO – Kebijakan larangan study tour keluar kota yang diberlakukan oleh sejumlah pemerintah daerah menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batu.
Tak sedikit saat ini pelaku UMKM kesulitan bertahan akibat menurunnya jumlah kunjungan wisatawan pelajar, salah satu segmen utama pariwisata daerah tersebut.
Yusuf Indra Hermawan, pemilik warung Al-Jufri di kawasan Pasar Apung Museum Angkut, mengaku omzet usahanya turun drastis sejak kebijakan itu diterapkan.
Baca Juga :Jelang Idul Adha Harga Sapi di Kabupaten Kediri Naik
“Long weekend yang biasanya menjadi momen puncak kini tidak terlalu berdampak. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, terjadi penurunan omzet hingga 50 persen. Selain kunjungan menurun, daya beli masyarakat juga melemah,” ujarnya, Selasa (3/6/2024).
Ia menambahkan, sebelum pandemi Covid-19, kawasan wisata di Kota Batu ramai dikunjungi rombongan pelajar dari berbagai daerah. Namun setelah pandemi, kondisi belum sepenuhnya pulih, dan larangan study tour justru memperburuk situasi.
“Sebelum pandemi, wisata di sini selalu ramai. Setelah itu, grafik pengunjung turun tajam. Ketika kami mulai bangkit, justru muncul kebijakan larangan study tour ke luar kota,” katanya.
Hal serupa diungkapkan Ainun Nur Farida, pemilik salah satu outlet oleh-oleh. Ia bahkan terpaksa menutup beberapa gerai di tempat wisata, seperti BNS, Jatim Park 1, dan WBL, karena merosotnya pendapatan.
Baca Juga :Wali Kota Syauqul Muhibbin Tunjuk Dokter Spesialis Patologi Plt Direktur RSUD Mardi Waluyo
“Sebelumnya saya punya beberapa outlet di kawasan Jatim Park Group, sekarang hanya satu yang masih bertahan, yakni di Museum Angkut,” jelasnya.
Untuk bertahan, Ainun kini mengandalkan penjualan secara online agar tidak terbebani biaya operasional seperti sewa tempat dan gaji karyawan.
“Karena sektor wisata makin sepi, saya memilih berjualan online agar tetap memiliki penghasilan tambahan,” tambahnya.
Sementara itu, Didik Harianto, pedagang buah dan oleh-oleh di area Jatim Park 1, juga mengeluhkan hal serupa. Ia menyebutkan larangan study tour sangat terasa dampaknya, terutama saat musim libur sekolah yang biasanya menjadi masa panen kunjungan wisata.
“Biasanya Mei sudah ramai karena banyak kegiatan study tour. Sekarang sepi. Kami pelaku UMKM di Batu sangat terdampak,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi ulang kebijakan ini, mengingat wisata edukasi tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Wisata edukasi itu penting untuk pembelajaran siswa dan juga menghidupkan roda ekonomi daerah. Pemerintah sebaiknya mengkaji ulang keputusan ini,” pungkas Didik.
Sebelumnya, pihak Jatim Park 1 mencatat penurunan jumlah kunjungan wisatawan sejak larangan study tour diberlakukan.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi penurunan hingga 30 persen. Bahkan saat libur panjang, jumlah pengunjung tidak menunjukkan lonjakan signifikan dan cenderung fluktuatif.
Baca Juga :SDN 1 Sumberdadi Diusulkan Jadi Sekolah Transit, Pemkab Tulungagung Lakukan Peninjauan
Data terbaru menyebutkan, kunjungan harian wisatawan saat momen libur panjang hanya mencapai sekitar 1.000 orang per hari. Jumlah tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.



















