Kediri, SEJAHTERA.CO – Kelangkaan atau sulitnya mencarai LPG 3 kilogram di sebagian wilayah Kabupaten Kediri masih terus berlangsung.
Hingga hari ini, Minggu (16/6/2024), para “pemburu” LPG 3 kilogram, baik dilakukan ibu-ibu atau bapak-bapak masih terus berlangsung.
Tapi, hampir setiap penjaga toko kelontong atau warung yang biasa menjual LPG 3 kilogram, selalu menolak pelanggan karena lagi kosong.
Pekan kemarin, salah satu toko kelontong di wilayah Kecamatan Gampengrejo, yang mendapat kiriman dari pangkalan, merasa lega dan bersyukur.
Dengan kiriman itu, sebanyak 20 tabung LPG 3 kilogram, pemilik toko kelontong ini dapat melayani pelanggannya, meski tidak banyak.
Begitu mendapat kiriman 20 tabung LPG 3 kilogram, meski tidak diberitahukan, para tetangga langsung berdatang membeli, termasuk orang luar desa.
Dengan cepatnya menyebar begitu tabung LPG 3 kilogram datang, melalui gethok tular, tidak sampai semalam langsung habis.
Padahal, pemilik toko kelontong itu, menaikkan harga LPG 3 kilogram menjadi Rp 20 ribu pertabung melon.
“Ngapunten (maaf), untuk sementara harga LPG 3 kilogram naik ya. Kirimannya jarang dan kata pangkalan tidak ada kiriman sejak tiga hari kemarin,” kata pemilik toko kelontong, Malikha, Minggu (16/6/2024).
Apa komentar para pemburu LPG 3 kilogram, marah? Tidak sama sekali. Bahkan mereka menantang, “Jangankan Rp 20 ribu, Rp 25 ribu saya beli, asalkan ada,” kata seorang pembeli, Mbah Warni.
Karena dia bersama suaminya, merasakan betul bagaimana sulitnya mencari LPG 3 kilogram belakangan ini.
Di saat sejumlah toko kelontong di desanya pada kosong, dia terpaksa mencari keliling hingga ke luar desa bahkan ada yang lintas kecamatan.
“Aku dengan suaminya melacak LPG 3 kilogram hingga Desa Turus, Desa Grompol, Desa Gampeng, hingga Desa Sambiresik dan akhirnya kembali dengan tangan kosong. Sampek nangis aku,” katanya.
Itulah kondisi Lpg 3 kilogram di sebagian wilayah Kabupaten Kediri, utamanya di bagian utara saat ini. Entah sampaikan?
Salah seorang pemilik pangkalan menginformasikan, biasanya, kondisi semacam ini, berlangsung hingga tiga bulan, seperti tahun lalu. Waduh?
Editor: Gimo Hadiwibowo



















