Jakarta, SEJAHTERA.CO – Turnamen sepakbola untuk anak muda yang sudah melegenda, Piala Soeratin, bakal digelar lagi.
Ya, PSSI akan kembali tahun ini kembali menggelar turnamen anak muda atau usia muda yang bernama Piala Soeratin.
Seperti pada penyelenggaraan sebelumnya, Piala Soeratin tahun ini terbagi tiga kelompok umur, yakni U 13, U 15 dan U 17.
Kejuaraan ini terakhir digelar pada tahun 2022. Peserta yang ikut berasal dari Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI yang ada di seluruh Indonesia.
Pengundian pun sudah terlaksana, Selasa (9/1).
Sebagai informasi, penamaan Soeratin ini mengambil nama dari tokoh pendiri PSSI, Ir Soeratin Sosrosoegondo.
Dimulai sejak 1965, Piala Soeratin khusus dibuat untuk pemain muda, dan Persikasi menjadi pemegang rekor dengan 4 kali menjadi juara.
Dengan ini Piala Soeratin dinobatkan menjadi turnamen usia muda terbesar dan tertua di Indonesia hingga saat ini.
Pada Senin tanggal 19 April 2021 lalu, PSSI merayakan hari jadinya yang ke-91 tahun.
Merefleksi perjalanan organisasi ini, PSSI, tentu akan selalu mengenang perjuangan Ir. Soeratin Sosrosoegondo.
Soeratin Sosrosoegondo adalah tokoh yang merupakan pendiri sekaligus Ketua Umum PSSI yang pertama selama sepuluh tahun pertama.
Soeratin menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928.
Saat dia kembali, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda, Sizten en Lausada, yang berkantor pusat di Yogyakarta.
Di sana dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan komisaris perusahaan konstruksi besar itu.
Akan tetapi, didorong oleh semangat nasionalisme yang tinggi, dia kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.
Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, Soeratin lebih banyak aktif di bidang pergerakan.
Sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepak bola, dia menyadari kepentingan pelaksanaan butir-butir keputusan yang telah disepakati bersama dalam pertemuan para pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda).
Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang Belanda.
Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin rajin mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung.
Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam atau tertutup untuk menghindari sergapan Intel atau Polisi Belanda (PID).
Kemudian, ketika mengadakan pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi sepak bola nasional.
Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang dilakukan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno (bukan Bung Karno).
Sementara itu, seperti dilansir www.pssi.go.id, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.
Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB – Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Gatot)
Lalu PSM – Persatuan sepak bola Mataram Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan M. Amir Notopratomo)
VVB – Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (Soekarno), MVB – Madioensche Voetbal Bond (Kartodarmoedjo).
IVBM – Indonesische Voetbal Bond Magelang (E.A. Mangindaan), dan SIVB – Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Pamoedji).
Dari pertemuan sejumlah tokoh tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI yang terus berkembang hingga sekarang dengan Ketua Umum Erick Thohir. (bersambung)
Editor: Gimo Hadiwibowo



















