Blitar, SEJAHTERA.CO – Blitar banyak sekali monumen-monumen bersejarah untuk mengenang pengorbanan pemberontakan masyarakat Blitar melawan penjajah. Monumen tersebut di antaranya Monumen PETA, Monumen Potlot, Monumen TGP, Monimen Trisula dan beberapa lainnya. Termasuk Monumen Palagan Ngadirejo Blitar.
Monumen Palagan Ngadirejo ini memang tidak sebesar monumen pada biasanya, letak monumen Palagan Ngadirejo di pinggiran Kota Blitar, tepatnya di Jalan D.I. Panjaitan Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Seperti yang diketahui monumen palagan ngadirejo ini diresmikan langsung oleh Menkeu Sumarlin pada 12 Desember 1992. Tujuan utama monumen palagan ngadirejo ini didirikan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda di bawah kesatuan tentara Prinses Irine Brigade l, pada 14 April 1949.
Dengan tujuan kegunaan bersifat edukatif (pendidikan). Para generasi muda dapat menghayati makna sejarah dari suatu kenangan atau monumen atau tetenger, dapat mengarah pada langkah-langkah yang membawa kemajuan dimasa sekarang maupun masa mendatang.
Selain itu monumen palagan ngadirejo dibangun juga untuk rekreatif (perasaan senang). Seolah-olah siapa saja yang mengunjungi tempat ini dapat membawa pikiran kearah perjalanan yang jauh dan menyenangkan, serta menggambarkan pada zaman lampau dan memberi warna yang berbeda.
Monumen palagan ngadirejo menggambarkan, Peristiwa titik-balik (turning point) perang atau pertempuran oleh pasukan tempur ataupun perlawanan dari suatu pasukan gerilya, dalam hal ini adalah perlawanan antara Pasukan Tentara Belanda dengan Pasukan TRIP di Palagan Ngadirejo.
Menurut keterangan penduduk setempat, Pasukan tentara Belanda yang berpatroli ke jurusan utara kota Blitar menuju Nglegok dan Candi Penataran, adalah lebih banyak dari pada yang biasanya.
Sedikitnya 2 peleton dengan persenjataan yang lebih lengkap dan kendaraan truk termasuk brencarier, telah digunakan saat patroli tersebut. Pasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dengan taktik perang gerilya mengalami korban yang sangat minim dibanding dengan jumlah
Pasukan TRIP yang terlibat dalam pertempuran saat itu. Tetapi sebaliknya fihak Pasukan tentara Belanda tidak menyangka akan menghadapi perlawanan pasukan TRIP, sehingga mengalami cukup banyak korban yang berjatuhan.
Peristiwa heroik yang jarang terjadi ini perlu dikenang dan perlu diketahui oleh masyarakat luas maupun generasi mendatang, bahwa peristiwa tersebut merupakan momen-momen yang bersejarah. (kmc2)



















