Jombang, SEJAHTERA.CO – Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan berlangsung di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Hasbullah, Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Keputusan ini diambil dengan pertimbangan nilai sejarah dan napak tilas perjuangan sang pendiri NU.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, mengungkapkan bahwa panitia lokal sebelumnya sempat merencanakan kawasan makam sebagai lokasi musyawarah.
Namun rencana itu dibatalkan karena area makam diprediksi bakal menjadi titik pusat keramaian para peziarah dan penggembira sepanjang pelaksanaan Muktamar.
“Memang awalnya kita punya wacana ditempatkan di area makam. Tapi karena di situ area keramaian, jadi kita geser ke Ndalem KH Wahab Hasbullah,” ucap Gus Rozaq saat dikonfirmasi awak media, Selasa (12/8/2026) sore.
Ia juga menegaskan bahwa Ndalem Kiai Wahab jauh lebih kondusif dan dapat memberikan ketenangan yang dibutuhkan dalam forum musyawarah sepenting AHWA.
Baca Juga :Persiapan Muktamar NU Tembus 50 Persen, Gus Ipul Optimis Jombang Siap 17 Hari Lagi
Langkah ini juga menjadi bentuk kesiapan panitia lokal dalam mendukung kelancaran seluruh rangkaian agenda krusial muktamar.
Sebagai forum tertinggi, AHWA beranggotakan sembilan ulama pilihan yang mengemban mandat khusus untuk memilih Rais Aam PBNU periode berikutnya.
Pemilihan Ndalem Kiai Wahab sekaligus difungsikan sebagai momentum untuk merefleksikan kembali jejak histori dan spirit perjuangan sang Mbah Wahab.
“Ini sekaligus untuk mengenang awal perjuangan Kiai Wahab mendirikan NU yang memang berawal dari rumah tersebut,” jelasnya.
Penetapan Ndalem Kiai Wahab tidak sekadar persoalan teknis tempat, melainkan sarat akan simbol historis bagi perjalanan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Secara kontekstual, AHWA sendiri merupakan sistem penetapan pimpinan tertinggi yang menjadi tradisi dan ciri khas keorganisasian di tubuh NU, khususnya dalam menentukan Rais Aam Syuriyah.
Baca Juga :Selter JPTP Ponorogo Ditutup, 39 Peserta Berebut Enam Jabatan Eselon II
“Mekanisme ini melibatkan jajaran ulama dan kiai sepuh terkemuka yang dinilai memiliki kedalaman ilmu serta kearifan untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi,” pungkasnya.
Perlu diketahui dalam prosesnya, forum AHWA mengedepankan prinsip musyawarah mufakat guna memilih figur yang paling matang dan layak mengemban amanah sebagai Rais Aam.
Konsep AHWA ini mengakar kuat dari tradisi politik Islam klasik yang dicontohkan para sahabat Nabi Muhammad SAW saat menentukan pemrakarsa kepemimpinan umat.
Bagi NU, penerapan mekanisme AHWA menjadi benteng untuk menjaga martabat para ulama serta melestarikan tradisi regenerasi kepemimpinan berbasis keilmuan.
Sistem AHWA terbukti efektif memberi ruang bagi para kiai untuk bermusyawarah secara jernih, mengedepankan ketokohan, pertimbangan keilmuan, serta kemaslahatan umat tanpa harus terjebak dalam kontestasi politik praktis.



















