Pemuda Asal Kelurahan Bandar Kidul Membantu Merintis Usaha Mainan Pesawat Gabus, Mulai SMA, Keterusan hingga Duduk di Bangku Kuliah

Pemuda Asal Kelurahan Bandar Kidul Membantu Merintis Usaha Mainan Pesawat Gabus, Mulai SMA, Keterusan hingga Duduk di Bangku Kuliah
Mohammad Ridho Subekti saat memeriksa bodi mainan pesawat buatannya (rizky/sejahtera.co)

Kediri, SEJAHTERA.CO – Saat gemricik hujan terdengar di Gang Kecil Kelurahan Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto Kota Kediri malam seorang pemuda tampak asyik merangkai styrofoam menjadi mainan pesawat.

Meski di tengah gempuran era modern serba digital saat ini, jenis mainan itu adalah pesawat yang terbuat dari bahan baku gabus itu masih diminati dan bisa menghidupi keluarga.

Anak muda itu adalah Mohammad Ridho Subekti. Sembari duduk lesehan di ruang tamu seluas 2X4 meter dengan posisi kaki yang diluruskan, pemuda 22 tahun ini sedang menggosok-gosok gabus menggunakan ampelas hingga memotongnya di atas meja belajar dengan panjang 120 sentimeter dan lebar 80 sentimeter.

Read More

Baca Juga :Angin Kencang Merobohkan Pohon, Kepala BPBD Kabupaten Blitar: Timpa Sekolah hingga Musala, Tak Ada Korban Jiwa

Sambil menikmati segelas kopi, jari-jari tangannya dengan telaten mencocokkan ukuran badan pesawat.

Meminum segelas kopi sambil menghisap sebatang rokok sudah menjadi teman bagi dirinya saat menjalankan aktivitasnya terlebih untuk mencari inspirasi.

“Silahkan duduk mas. Kalau jam segini (malam), saya sudah berproses buat mainan pesawat,” kata lelaki yang akrab disapa Ridho ini sembari menunjukkan pesawat buatannya yang sudah dimodifikasi dengan lampu kelap-kelip.

Ridho menceritakan, pembuatan pesawat itu bermula dari ilmu yang diberikan oleh ayahnya. Tahun 2019 lalu, ayahnya yang berada di Malang melihat ramainya orang penjual pesawat.

Baca Juga :SNPMB Akhirnya Diperpanjang, ini Keterangan Kepala Sekolah SMKN 3 Blitar

Dari situlah, sang ayah yang melihat merasa tertarik karena ketika pesawat dimainkan dengan cara dilempar bisa kembali sendiri.

“Ayah langsung beli mainan pesawat itu. Lalu dibawa pulang ke rumah,” ucapnya.

Membeli mainan pesawat tersebut ternyata bukan tanpa alasan. Ayah Ridho melihat ada peluang bisnis untuk membuat pesawat sekaligus menjualnya.

Dia mengaku, mainan tersebut banyak diminati anak-anak di Malang. Itu lantaran ketika dimainkan, pesawat gabus itu bisa kembali sendiri. Meski begitu, sang ayah tidak langsung memproduksi atau membuat mainan pesawat tersebut.

Baca Juga :DKPP Kabupaten Kediri Fokus Pengobatan Sapi Cegah PMK

“Awalnya hanya mengamati saja bentuknya dan bahannya apa aja. Itu dibongkar satu persatu karena penasaran gimana caranya mainan pesawat bisa balik sendiri,” jelas Alumni SMA Taruna Kediri ini.

Dia yang melihat langsung proses mengotak-atik untuk menemukan titik temu tersebut merasa heran. Sebab, bahan-bahannya mulai dari gabus, gunting, pisau, isolasi dan cara membuatnya dilakukan secara otodidak dengan menghabiskan waktu selama satu bulan.

Berdasarkan memorinya proses pembuatan secara perlahan bisa dilakukan, tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan.

“Itu selama satu bulan sambil pelajari, juga proses membuat. Tapi pesawat saat dimainkan belum bisa kembali, titik temunya sulit banget,” keluhnya.

Baca Juga :Dinkes Kabupaten Kediri Imbau, Jika Ada 1 Warga Terpapar DBD, Jarak 100 Meter Perlu Difogging

Seiring berjalannya waktu, ayahnya berhasil menemukan tentang apa yang menjadi kendala tersebut. Hal itu diketahui setelah mencoba satu persatu pesawat buatan hingga evaluasi.

Selanjutnya, ayahnya memberikan ilmu tentang bagaimana membuat mainan anak-anak tersebut kepada dirinya. Lantas, Ridho yang pada saat itu berusia 17 tahun tidak merasa keberatan, melainkan menyambutnya dengan antusias.

“Dari pada tidak ngapa-ngapain, mending cari pengalaman, bantu orang tua, dan meningkatkan mental diri saya sejauh mana,” katanya.

Baca Juga :Antisipasi Banjir Susulan di Sepawon dan Wonorejo Trisulo, Dibuatkan Sodetan di Wilayah Perkebunan Sepawon Bagian Atas

Pemuda yang kini menempuh pendidikan di salah satu universitas Kota Kediri ini mengaku, sempat merasa kesulitan ketika sedang proses membuat mainan pesawat. Maklum saja, dirinya masih pertama kali membuat dan belum memiliki pengalaman.

Akan tetapi, kesulitan itu bukan menjadi permasalahan serius bagi dirinya karena rasa optimis dan percaya diri masih ada harapan.

Seiring berjalannya waktu, pencapaian itu akhirnya bisa terwujud hingga apa yang menjadi kendala selama proses pembuatan dapat diatasi dengan baik.

“Kalau nggak belajar, pasti tidak bisa. Ini semua berkat usaha saya, juga ayah yang tidak capek dalam memberikan ilmu kepada saya sejak awal sampai berhasil,” kenangnya.

Baca Juga :Dinkes Ponorogo Tekan Angka Kematian Ibu, Fokus pada Skrining dan Pendampingan

Tidak hanya sekedar membuat, dia juga menjual mainan pesawatnya. Walaupun merintis pada saat duduk kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA), Ridho tidak minder ketika berjualan membantu ayahnya pada saat weekend (Sabtu-Minggu) di Simpang Lima Gumul (SLG) menggunakan obrok.

Di samping itu, dirinya mampu membagi waktu antara berjualan maupun proses membuat pesawat dengan sekolah.

Uang hasil jualan mainan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah. Ia bersyukur karena hasil karya buatannya bisa laku khususnya disukai anak-anak.

Baca Juga :Permintaan Penyamaan Harga Tanah Tak Digubris, Warga Terdampak Proyek Jalan Tol Kediri- Tulungagung Kecewa

“Dulu harganya Rp 6 ribu per biji (mainan). Kalau sekarang menjadi Rp 8 ribu,” tambah anak pertama dari dua bersaudara ini.

Pria yang dulu pernah ikut cabang olahraga Wushu ini mengaku, penjualan mainan tersebut tidak hanya di satu tempat, melainkan keliling di wilayah Kota dan Kabupaten Kediri. Terutama di sekolah usia anak-anak kecil yakni PAUD atau Taman Kanak (TK).

Bahkan, juga di acara-acara lain seperti pengajian hingga karnaval di desa-desa.

Sekitar dua tahun kemudian, dia merasa bersyukur karena mendapatkan gabus bekas yang merupakan bahan baku untuk membuat mainan pesawat. Hal itu juga membawa dampak positif lantaran bisa menghemat biaya.

Baca Juga :Pemesatan Tiket KA untuk Lebaran Islam 2025 Dibuka, KAI Minta Masyarakat Rencanakan Perjalanan

“Gabusnya itu banyak dibuang tempat sampah, terus diambil bapak. Ambilnya pas pulang jualan, tahunya bapak saat keliling ada gabus bekas dan dibawa pulang ke rumah,” imbuhnya.

Hingga saat ini, penjualan mainan pesawatnya masih eksis walaupun kondisinya sudah di era digital atau modern. Oleh karenanya, ada sedikit perbedaan penjualan di tahun sebelumnya hingga saat ini.

Namun demikian, dia yang merupakan generasi milenial memanfaatkan teknologi era digital saat ini untuk memasarkan mainannya tersebut. Tidak hanya dijual di Kediri, pesawat itu juga dijual di wilayah Blitar karena sudah ada pelanggan ayahnya yang tertarik dengan mainan buatannya sejak tahun 2022.

Dia menambahkan, satu minggu sekali mengirimkan mainan pesawat ke kios pedagang Makam Bung Karno Blitar sebanyak 100 hingga 200 biji.

Baca Juga :Patroli Tambang Pasir, Polisi Minta Alat Berat Dipindah, Ini Kata Kanit Tipidekter Polres Blitar Kota

“Itu suatu kebanggan bagi kami karena bisa dikenal banyak orang khususnya pelanggan. Saya punya harapan ke depannya, usaha yang dirintis sejak awal bisa terus berlanjut,” pungkas Ridho Subekti.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *