Pesawat Tempur Jatuh di Pasuruan, Ada Prosedur yang Harus Dievaluasi

Pesawat Tempur Jatuh di Pasuruan, Ada Prosedur yang Harus Dievaluasi

JAKARTA, SEJAHTERA.CO – Insiden pesawat jatuh di Pasuruan beberapa waktu memantik reaksi dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Wakil Ketua DPR RI Lodewijk F. Paulus menilai tragedi pesawat jatuh itu menunjukkan adanya prosedur yang harus dievaluasi.

Dikutip dari laman Parlementaria, terjadi pencopotan jabatan Danlanud (komandan lapangan udara) Abdulrachman Saleh, Malang sebelum insiden pesawat jatuh tersebut.

Read More

Ia mempertanyakan keikutsertaan seorang berpangkat kolonel administrasi yang ikut serta dalam penerbangan pesawat tempur yang jatuh.

“Kenapa ada seorang kolonel administrasi ikut penerbangan? Seharusnya, (kolonel) administrasi tidak boleh ada dalam penerbangan latihan tersebut,” ujar Lodewijk dikutip dari Parlementaria.

Fakta itu menurut Lodewijk menjadi indikasi adanya kesalahan prosedur dalam latihan penerbangan pesawat tempur.

“Dengan fakta tersebut berarti ada SOP (standard operational procedure) yang dilanggar, yakni kenapa ada seorang kolonel administrasi (Kol.adm) ikut penerbangan?” tanya Lodewijk.

Politisi dari Fraksi Partai Golkar itu menegaskan bahwa alat utama sistem pertahanan (Alutsista) tersebut bisa dipergunakan secara profesional dan proposional.

Seorang prajurit TNI AU menurut Lodewijk harus profesional dan proporsional menggunakan Alutsista yang diperuntukkan untuknya.

“Tentu hal itu tidak terbatas pada TNI AU saja, tapi juga berlaku untuk TNI AD dan TNI AL,” papar Purnawirawan TNI AD dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal ini.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama R Agung Sasongkojati telah memberikan penjelasan terkait perwira dari Korps Administrasi.

Ia berada di dalam pesawat EMB-314 Super Tucano yang jatuh di Keduwung, Puspo, Pasuruan pada Kamis (16/11/2023).

Dua pesawat tempur ringan EMB-314 Super Tucano mengalami kecelakaan saat latihan terbang formasi dengan empat orang prajurit yang tiga diantaranya dari perwira Korps Penerbang Tempur.

Dari empat perwira di dalam dua pesawat nahas itu, salah satu di antaranya Kolonel (Adm) Widiono yang merupakan perwira administrasi.

Sumber : Parlementaria

Editor : Irwan Maftuhin

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *