Blitar, SEJAHTERA.CO – Perum Jasa Tirta I akhirnya melakukan penggelontoran atau flushing sedimen di Bendungan Wlingi dan Bendung Lodoyo, Kabupaten Blitar. Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan kapasitas tampungan air waduk, sekaligus menjaga layanan irigasi dan pembangkitan listrik.
Baca juga:Kecelakaan di Talun Blitar, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Honda Brio
Di Bendungan Wlingi Raya, pintu air dibuka tepat pukul 09.00 WIB. Sebelumnya, Bendung Lodoyo telah lebih dulu dibuka. Kegiatan flushing berlangsung mulai Senin (18/5/2026) hingga Jumat (22/5/2026).
Kepala Divisi Jasa ASA Wilayah Sungai Brantas Perum Jasa Tirta I, Agung Nugroho, menyampaikan bahwa flushing merupakan agenda penting yang dilakukan secara terencana untuk menjaga keberlangsungan fungsi Bendungan Wlingi dan Bendung Lodoyo.
“Pelaksanaan flushing ini merupakan bagian dari pemeliharaan rutin yang sangat penting untuk menjaga fungsi waduk, mendukung keberlanjutan pembangkitan listrik di PLTA Wlingi, PLTA Lodoyo, dan PLTM Lodagung, serta memastikan kelancaran pasokan air bagi Daerah Irigasi Lodagung. Dengan penggelontoran sedimen ini, kami berharap kapasitas tampungan dan keandalan infrastruktur sumber daya air dapat tetap terjaga,” jelas Agung.
Pada pelaksanaan tahun ini, PJT I menargetkan volume sedimen yang tergelontor mencapai sekitar 600 ribu meter kubik, atau relatif setara dengan capaian tahun sebelumnya. Berdasarkan pelaksanaan flushing tahun 2025, volume sedimen yang berhasil tergelontor mencapai 599.388,123 meter kubik, terdiri atas 347.919,164 meter kubik dari Waduk Wlingi dan 251.468,959 meter kubik dari Waduk Lodoyo.
Data tersebut tercantum dalam laporan flushing Waduk Wlingi dan Waduk Lodoyo tahun 2025. Agung menjelaskan, kegiatan ini perlu dilakukan karena sedimentasi menjadi salah satu tantangan utama dalam pengelolaan waduk.
Berdasarkan data sounding terakhir, kapasitas tampungan efektif Waduk Wlingi mengalami penurunan signifikan dibandingkan kondisi awal. Volume efektif yang pada 1979 sebesar 5,20 juta meter kubik (100 persen), tercatat menjadi sekitar 2,24 juta meter kubik pada 2025 atau sekitar 43,08 persen.
Baca juga:Polres Blitar Kota Ringkus 19 Tersangka Narkoba, Sabu hingga Pil Dobel L Disita
Sementara itu, volume efektif Waduk Lodoyo yang pada 1980 sebesar 5,00 juta meter kubik (100 persen), kini tersisa sekitar 2,31 juta meter kubik pada 2025 atau sekitar 46,20 persen dari kondisi awal.
“Penurunan kapasitas tampungan tersebut menjadi salah satu dasar penting dilaksanakannya flushing. Sedimentasi merupakan proses alami, terlebih pada sistem waduk di aliran Sungai Brantas. Karena itu, diperlukan pemeliharaan berkala agar fungsi waduk untuk irigasi, pembangkitan listrik, dan pengendalian tata air tetap optimal,” imbuhnya.
Untuk mendukung pelaksanaan tahun ini, PJT I menurunkan delapan unit alat berat yang ditempatkan di area Waduk Wlingi dan Waduk Lodoyo. Rinciannya, enam unit di Waduk Wlingi dan dua unit di Waduk Lodoyo.
Penggunaan alat berat dilakukan untuk membantu pembersihan dan penggelontoran sedimen, khususnya di area yang tidak dapat tergelontor secara alami melalui aliran air.



















